Titik klimaks tampaknya dialami pelaku wisata ritual Gunung Kawi di Desa/Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Mereka berkeinginan bergabung dengan Pemerintah Kota Batu agar kunjungan wisata kembali ramai. Tidak seperti saat ini.


Gunung Kawi memang menjadi destinasi wisata religi sejak dulu. Di lokasi ini terdapat makam menjadi daya tarik para wisatawan lokal dan luar negeri, sehingga menjadi tumpuan hidup masyarakat sekitarnya.
Konon, Raden Mas Soeryo Koesoemo dimakamkan satu liang dengan Raden Mas Iman Soedjono, keduanya memiliki hubungan dekat dengan Pangeran Diponegoro.
Raden Mas Soeryo Koesoemo atau yang lebih dikenal sebagai Kiai Zakaria II ini juga merupakan dari kerabat Keraton Kartosuro. Karena kesaktian dua tokoh itu semasa hidupnya, banyak peziarah yang percaya bahwa berziarah di makam ini juga mendatangkan berkah tersendiri.
Di lokasi atau kompleks makam Gunung Kawi dibangun beberapa tempat ibadah. Mulai dari masjid, kelenteng atau wihara. Sehingga semua peziarah, mulai umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, biasanya menyempatkan diri untuk beribadah di tempat ibadah masing-masing itu.
Baik sebelum atau sesudah berziarah mereka biasanya akan beribadah sesuai keyakinan masing-masing. Pengunjung Gunung Kawi berasal dari multi ras, mulai dari Jawa, Madura, Bali, sampai keturunan China.
Namun, dua tahun terakhir jumlah pengunjung yang datang terus mengalami penurunan. Mungkin hanya mengandalkan keberadaan dua makam yang diyakini dan dipercaya bisa mendatangkan berkah, kalaupun masih ada pengunjung, tentu umurnya sudah lebih dari setengah abad.
"Sekarang sepi, bisa dikatakan dua tahun terakhir ini. Kami bisa mengatakan itu, karena jumlah tamu semakin menurun," kata pemilik penginapan Gigih Guntoro kepada detikcom, Senin (16/5/2016).
Dia mengaku, sepinya tamu jelas mempengaruhi. Karena dirinya harus membayar kewajiban berupa pajak. Padahal, dalam sebulan belum tentu semua kamar penginapannya terisi para tamu.
"Di sisi lain, kami harus bayar pajak tiap bulannya hampir Rp 500 ribu. Tetapi yang menginap tidak ada. Berulangkali kami meminta toleransi untuk pembayaran pajak," aku mantan Kades Wonosari ini.
Gigih bahkan pernah menuntut perhatian dari pemerintah daerah untuk cepat segera mengambil langkah menyikapi turunnya kunjungan wisata di Gunung Kawi.
"Berulangkali kami minta, tetapi tidak ada gerakan sama sekali. Kami ingin selain bayar pajak ya dibantu mempromosikan," keluh dia.
"Kita kalah dengan Batu, disana banyak destinasi wisata. Kami pun berkeinginan bagaimana wisata Gunung Kawi bisa satu paket dengan Batu. Atau bisa mengembangkan destinasi baru di wilayah Gunung Kawi sebagai daya tarik wisata non religi," beber dia.
Menurut dia, ini merupakan titik klimaks melihat banyak masyarakat bergantung kepada kunjungan wisata. Memang tidak semudah membalik telapak tangan, tetapi Gigih bersama masyarakat lain, akan terus memperjuangkan untuk dapat bergabung dengan Pemerintah Kota Batu. "Ini sudah jadi tekad kami. Dulu ketika saya jadi Kades, saya adakan event tahunan 1 Suro, sekarang adem ayem. Kami seperti dibiarkan begitu saja," sesalnya.
Karena itu, kata dia, masyarakat berkeinginan wisata Gunung Kawi dapat menjadi satu paket dengan Kota Wisata Batu. Dimana, daerah berbatasan dengan Kabupaten Malang tersebut telah sukses di bidang pariwisata.
"Artinya, lokasi wisata ritual Gunung Kawi sangat memerlukan berbagai inovasi pembangunan destinasi wisata baru untuk keluarga, sehingga wisatawan bisa mendapatkan dua destinasi sekaligus. Orang tua beribadah, sementara anak dan keluarganya juga bisa menikmati wisata rekreasi," harap dia.
Gigih bersama warga mendorong segera terciptanya jalur tembus atau lingkar yang menghubungkan Wisata Gunung dengan Kota Wisata Batu. 
Peningkatan insfratruktur ini dirasa urgent demi memulihkan potensi pariwisata religi dimiliki Pemerintah Kabupaten Malang. "Kami siap bersama warga, bagaimana meramaikan wisata Gunung Kawi. Apakah dengan menambah destinasi wisata baru atau mendukung kebijakan ke arah sana," tegasnya.
Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara masih menganggap santai tuntutan masyarakat Gunung Kawi dalam pengembangan pariwisata menjadi gantungan hidup sehari-hari.
Menurut Made, Gunung Kawi memang sejak dulu dijadikan ikon wisata religi, dan keberadaannya sudah lama. Sehingga seakan tidak diperlukan lagi program pengembangan wisata di lokasi tersebut, Made seakan tidak percaya begitu saja jumlah kunjungan wisata Gunung Kawi menurun dratis.
"Semua pasti tahu, Gunung Kawi. Masak sepi, nanti coba saya telpon Camat untuk mengumpulkan pelaku wisata di sana," tuturnya terpisah.

Terakhir diedit : 18 Juli 2016 14:06 WIB
Bagikan