Kenalkan UU KDRT Kepada Masyarakat

Kenalkan UU KDRT Kepada Masyarakat

Gunung Mas – Kegiatan Temu Sadar Hukum yang di adakan di Kecamatan Mihing Raya,Kamis,(13/9)ini dihadiri oleh damang, mantir, perangkat desa maupun masyarakat desa di Kecamatan Mihing Raya. Dalam kegiatan hadir sebagai pemateri dari bagian hukum, dimana Kabag Hukum Setda Kabupaten Gunung Mas, Guanhin, SH sebagai pemateri yang memberikan penjelasaan terkait penghapusan kekerasan dalam rumah tangga ditinjau dari persepektif HAM.

Sedangkan untuk pemateri dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Gunung Mas, dimana langsung diberikan oleh kepala dinasnya sendiri. Rumbun, SKM untuk memberikan materi terkait pencegahan perkawinan di usia anak. Dalam pembukaan materi yang diberikan oleh Kabag Hukum, Setda Gumas, Guanhin, SH mengatakan bahwa kesadaran hukum dan pengenalan undang-undang kekerasan dalam rumah tangga ini penting untuk diketahui masyarakat luas, apalagi masyarakat desa, Dimana dalam rumah tangga itu sendiri jangan sampai ada kekerasan sehingga nantinya akan tersangkut permasalahan hukum di kemudian hari.

“Pengenalan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Ditinjau Dari Persepektif HAM. Harus dipahami, dimana UU PKDRT memberikan pemahaman yang lebih variatif tentang jenis-jenis kekerasan. Tidak hanya kekerasan fisik tapi juga kekerasan psikis, seksual, dan penelantaran rumah tangga, jadi masyarakat luas penting mengetahui hal ini,”tutur Guanhin, SH.

Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Gunung Mas, Rumbun, SKM yang memberikan materi terkait pencegahan perkawinan di usia anak. Dimana sekarang ada usia dan batasan anak tidak boleh menikah muda sebelum usia mereka benar dewasa, dimana di kabupaten Gunung Mas, telah ada aturan perda untuk mengatur hal tersebut.

“Angka perkawinan usia anak di daerah ini cukup tinggi. Ini yang perlu cepat di sosialisasikan perda nya nanti,”ucap Rumbun, SKM. Menurut dia,  dalam melakulan pencegahan perkawinan usia anak di Kabupaten Gumas. Akan dilakukan kerja sama dengan instansi terkait lainnya. Hal supaya lebih efektif dan bersama-sama mengurangi angka perkawinan usia anak.

Press Release Bidang Pengelolaan Informasi Publik.

 

Tenaga Pendidik PAUD Harus dapat Menerapkan Pendidikan Sanitasi dan Cinta Lingkungan

Tenaga Pendidik PAUD Harus dapat Menerapkan Pendidikan Sanitasi dan Cinta Lingkungan

Gunung Mas – Lingkungan sekolah merupakan lingkungan kehidupan sehari-hari bagi siswa, jika sekolah dikelola dan ditata dengan baik maka akan, menjadi wahana efektif pembentukan perilaku peduli lingkungan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gunung Mas (Gumas) melalui Bidang Pembinaan Paud Dikmas menggelar Worksohp Pendidikan Sanitasi dan cinta lingkungan.

Dalam kegiatan Workshop Pendidikan Sanitasi dan Cinta Lingkungan digelar di Aula Badan Perencanaan, Penelitian dan pengembangan Daerah (BP3D), Kamis (15/9/2018).  Kegiatan ini dihadiri oleh, guru-guru, TK Negeri maupun Swasta se-Kabupaten Gunung Mas jumlah peserta sebanyak 26 orang.

Turut hadir, Sekdis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gunung Mas Brikson, M.Pd, Kepala Bidang Pembinaan Paud Dikmas Indra Yustina, S.Kom, dan sebagai pamateri dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Mas (Gumas) Kapala Bidang Kesehatan Masyarakat Evalin, SKM, Askep Kemitraan PT. ATA Bestwendri, serta pegawai di lingkup Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam sambutan tertulis Kepala Dinas Drs. Muhamad Rusdi yang dibacakan oleh Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan,

strategi kebijakan pemerintah dalam pelaksanaan pembinaan pendidikan sangatlah tepat, sebab dengan mutu pendidikan yang semakin baik dan relevansi pengembangan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat dalam pembangunan.

“Untuk itu dalam konsep penyelenggaraan pendidikan nasional masa depan yang berkualitas, serta perbaikan sitem pendidikan nasional ditujukan pada anak-anak bangsa memerlukan perhatian khusus dalam perkembangan mereka menuju anak yang berkembang sesuai dengan usianya,” kata Brikson.

Melalui melalui kegiatan Workshop dan cinta lingkungan ini merupakan intgrasi program yang sangat baik untuk membantu, memperkuat serta melengkapi program pemerintah daerah kabupaten.

“Saya menghimbau kepada kepala TK dan tenaga pendidikan PAUD yang hadir pada kesempatan ini untuk berperan aktif dalam upaya peningkatan wawasan tentang pendidikan sanitasi dan cinta lingkungan sebagai modal dasar untuk mengembangkan kreativitas mengajar, inovatif dan profesional dalam melaksanakan tugas di lembaga-lembaga yang kita kelola,” tutur Brikson.

Tujuan dari kegiatan, ini untuk penguatan dan peningkatan kemampuan tenaga pendidikan bidang sanitasi dan cinta lingkungan, upaya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan sanitasi cinta lingkungan melalui lembaga-lembaga pendidikan.

Press Release Bidang Pengelolaan Informasi Publik.

Petani Tetap Produktif Saat Musim Kemarau

Petani Tetap Produktif Saat Musim Kemarau

Jakarta – Sejak beberapa bulan terakhir, sejumlah sentra produksi pertanian terdampak musim kemarau. Tapi kekeringan tak menyurutkan petani Indonesia untuk berproduksi padi. Sejumlah langkah strategis turut dijalankan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) untuk memastikan petani tetap bisa tanam dan panen di segala musim.

Perhatian besar yang diberikan Kementan melalui sejumlah langkah strategis tidak lepas dari arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang meminta jajarannya untuk mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian. “Semua turun tangan untuk meyakinkan bahwa kekeringan bukan halangan tetapi kesempatan. Seluruh pejabat Kementan turun ke lapangan untuk membantu petani mencari sumber air, mempertahankan pertanaman, dan bisa tetap panen,” ungkap Amran.

Sebagai sesuatu yang niscaya, musim kering selayaknya tidak menjadi halangan untuk berproduksi. Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Sumarjo Gatot Irianto justru berkeyakinan bahwa musim kemarau bisa menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi jika dikelola dengan baik. “Musim kemarau bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin karena hama lebih sedikit, sinar matahari cukup baik untuk fotosintesis dan proses pengeringan. Jadi kualitas gabah lebih baik, biaya produksi juga bisa ditekan,” jelasnya optimis.

Kemarau juga meruapakan kesempatan untuk mendorong Perluasan Areal Tanam Baru (PATB). Untuk itu, Kementan mendorong program pertanaman padi tidak hanya memanfaatkan lahan sawah, tapi juga mengoptimalkan lahan rawa dan kering.Pada musim kemarau, rawa yang semula tinggi muka air 1 meter, pada musim kering turun menjadi 20-30 cm. Lahan rawa sebagai lahan sub optimal memiliki potensi luas 12,3 juta hektare, namun pemanfaatannya belum optimal. Dari potensi tersebut, baru dimanfaatkan seluas 4,5 juta hektare (36,8%) untuk produksi pertanian.

Sementara itu, luas lahan kering di Indonesia juga sangat besar, yakni 28,5 juta hektar termasuk  ladang, tegalan dan lahan yang tidak diusahakan menjadi PATB. “Pemerintah mendorong petani untuk menanam padi gogo. Targetnya tahun ini pertanaman 1 juta hektare pada tahun 2018 ini,” terang Gatot.

Selain pemanfaatan lahan suboptimal, Kementan juga memastikan lahan sawah masih tetap dapat dioptimalkan untuk menanam komoditas pangan, namun perlu diimbangi dengan upaya penyediaan air. “Pada musim kemarau, produksi padi sawah dapat diantisipasi dengan memanfaatkan embung, bendungan dan waduk. Selain itu, perbaikan sistem irigasi cukup bisa mengantisipasi dampak kekeringan,” ujarnya.

Melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP), Kementan mendistribusikan bantuan pompa air. Tahun 2018 ini sudah tersebar bantuan pompa air ukuran kecil (3 inchi) sebanyak 7.315 unit, pompa air ukuran sedang (4 inchi) sebanyak 7.132 unit, serta pompa ukuran besar (6 inchi) sebanyak 1.964  unit. “Kami meminta daerah untuk dapat menggerakkan bantuan pompa air ke wilayah-wilayah yang masih memungkinkan untuk mengoptimalkan sumber daya air yang ada,” tutur Pending.

Kementan juga membentuk tim khusus yang secara langsung terjun ke lapangan untuk berkoordinasi dengan sejumlah pihak melakukan pemetaan dan mitigasi terhadap daerah sentra produksi pertanian. “Kami turunkan tim khusus untuk berkoordinasi dengan pihak terkait, antara lain TNI, Kementerian PUPR, serta Pemerintah Daerah setempat dalam memetakan permasalahan, negosiasi penggelontoran air dari Bendungan, serta terlibat langsung melaksanakan pengawalan gilir giring sesuai jadwal yang telah disepakati,” ungkap Pending.

Kementan juga turut mengaplikasikan sejumlah teknologi adaptasi untuk menanggulangi dampak kekeringan, di antaranya adalah penerapan Biopori dan Sumur Suntik. Pembuatan lubang bipori selain untuk mengantisipasi terjadinya banjir dengan membuat air hujan cepat meresap ke dalam tanah, juga membuat tanah tidak cepat kehilangan air pada saat musim kemarau. Sementara, pembuatan sumur suntik diharapkan dapat menjadi alternatif sumber pengairan pada saat memasuki  musim kemarau, terutama pada sawah tadah hujan.

Dengan langkah tersebut, Kementan optimis produktivitas padi tetap terjaga untuk memenuhi kebutuhan nasional. Data Ditjen TP Kementan menunjukkan bahwa dampak kekeringan bisa diminimalisir. Dari 10 juta hektare luas tanam padi periode Januari- Agustus 2018, luas areal yang kekeringan hanya 135 ribu hektare atau 1,37 persen. Itu sudah termasuk yang terkena puso atau gagal panen yang hanya 0,26 persen atau 26.438 hektar dari total luas tanam.