APBD 2019 Ditargetkan Rp 1 Triliun Lebih

APBD 2019 Ditargetkan Rp 1 Triliun Lebih

Gunung Mas – Bupati Gunung Mas Drs. Arton S. Dohong hari ini menyampaikan pidato, pengantar nota keuangan pendapatan dan belanja daerah Kabupaten Gunung Mas tahun 2019, pada rapat paripurna ke-5 (lima) masa persidangan I (kesatu) tahun sidang 2018. Kegiatan tersebut digelar di ruang sidang paripurna DPRD Kabupaten Gunung Mas, Rabu (7/11/2018) pagi.

Turut hadir, Bupati Gunung Mas Drs. Arton S. Dohong, Ketua DPRD Drs. Gumer Wakil Ketua DPRD Rista Wati T Alang, yang mewakili Kapolres Gunung Mas Kabag Sumda Kompol Almer Silaholo, yang mewakili Kejari Kasi Pidum Muhammad Hamidun Noor, SH, Sekda Gunung Mas Drs. Yansiterson, M.Si, Asiten I Drs. Ambo Jabar, Asisten II Ir. Yohanes Tuah, M.Si, kepala perangkat daerah dan berbagai pihak terkait lainnya.

Dalam sambutan Bupati mengatakan, dalam RPJMN 2015 – 2019, ditetapkan 7 (tujuh) kebijakan pembangunan Nasional, yang harus menjadi acuan bagi pemerintah daerah, yakni sebagai berikut : 1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

2. meningkatkan pengelolaan dan nilai tambah sumber daya berkelanjutan; 3. Mempercepat pembangunan infrastruktur untuk pertumbuhan dan pemerataan; 4. Peningkatan kualitas lingkungan hidup, mitigasi bencana alam dan perubahan iklim; 5. Penyiapan landasan pembangunan yang kokoh; 6. Meningkatan kualitas sumber daya yang berkeadilan; 7. Mengembangkan dan memeratakan pembangunan daera.

Sesuai dengan tugas dan wewenang Kepala daerah berdasarkan pasal 65 ayat 1 point d Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, maka melalui kesempatan yang sangat penting ini, saya menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang Anggaran pendapatan dan belanja daerah Kabupaten Gunung Mas tahun Anggaran 2019, pendapatan berjumlah Rp. 1.012.370.376.741.,00. Belanja berjumlah Rp. 1.013.020.376.741,00 defisit Anggaran sebesar Rp. 650.000.000,00

“Perlu kami jelaskan bahwa peningkatan belanja tidak langsung pada tahun Anggran 2019 ini terutama terkait pembayaran tunjangan berdasarkan beban kerja dan uang makan ASN tahun 2018, pengalokasian gaji, tunjangan berdasarkan beban kerja dan uang makan untuk CPNS, serta pengalokasian anggaran untuk dana desa tahun 2019.

Melalui kesempatan ini saya ingin mengingatkan kembali kepada perangkat daerah, agar dapat mengambil langkah-langkah strategis dalam rangka merealisasikan target pendapatan.

“Saya berharap dengan modal kerja yang harmonis selama ini, kita semua dapat menjalankan tugas dan fungsi kita masing-masing dengan baik untuk kita persembhakan bagi masyarakat Kabupaten Gunung Mas ini,” tandasnya.

Press Release Bidang Pengelolaan Informasi Publik.

The 5th GHSA, Indonesia Mengawal Terciptanya Keamanan Kesehatan Dunia

The 5th GHSA, Indonesia Mengawal Terciptanya Keamanan Kesehatan Dunia

Mobilitas manusia di era milenial bukan hanya berdampak terhadap kecepatan penyampaian informasi. Ancaman kesehatan global menjadi sisi lain dunia tanpa batas yang mengantarkan penyakit-penyakit yang berisiko menyerang manusia serta ancaman bioterorisme.

Peran aktif negara-negara di dunia diperlukan untuk bersama-sama menanggulangi ancaman berbagai penyakit berbahaya dan menular, baik secara disengaja maupun  tidak disengaja. Wabah yang terjadi di suatu wilayah atau negara, dapat dengan cepat menyebar ke negara lainnya.

Wabah tersebut berdampak sosial, ekonomi, dan keamanan yang luas. Organisasi internasional, seperti WHO (Badan Kesehatan Dunia), FAO (Badan Pangan Dunia), OIE (Organisasi Kesehatan Hewan Dunia), dan Bank Dunia telah mengembangkan sejumlah aturan, pedoman, dan kerangka sebagai acuan

Momentum wabah Ebola pada tahun 2013 menjadi pengingat masih banyaknya negara yang belum melaksanakan regulasi badan kesehatan dunia secara optimal. Selain itu, berbagai upaya yang dilakukan masih bersifat sektoral.

Indonesia bersama tiga negara lainnya, Amerika Serikat, Finlandia, dan Korea Selatan berinisiatif membentuk forum Global Health Security Agenda (GHSA) pada Februari 2014. Awalnya, GHSA diminati oleh 29 negara. Perkembangan pesat GHSA membuat  Steering Committee GHSA berinisiatif untuk menyusun  framework baru yang akan diterapkan  pada 2019–2024.

“GHSA memiliki manfaat besar yang semakin lama semakin disadari oleh negara-negara di dunia. Dalam kondisi seperti saat ini, keamanan kesehatan global harus diperkuat melalui forum seperti GHSA,” ujar Menteri Kesehatan RI Prof. dr. Nila F. Moeloek, Sp. M(K).

Pola gerakan inisiatif tersebut, menurut Menkes, kini lebih tertata, baik dalam struktur, program, laporan sampai ke pembiayaan. Tujuannya agar GHSA dapat bermanfaat bagi anggotanya yang kini mencapai 65 negara. Anggotanya pun kian beragam mulai dari unsur pemerintah, lembaga filantropi, organisasi internasional, dan sektor non-pemerintahan.

Menyikapi hal tersebut, organisasi- dalam upaya peningkatan kapasitas dimaksud. Namun demikian, wabah Ebola pada tahun 2013 menjadi pengingat masih banyaknya negara yang belum melakukan aturan-aturan dimaksud secara optimal. Selain itu, berbagai upaya yang dilakukan masih bersifat sektoral.

Indonesia Aktif di GHSA

Forum kerja sama antarnegara yang bersifat terbuka dan sukarela ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang aktif berkontribusi, diantaranya menjadi anggota Tim Pengarah (Steering Group) bersama 9 negara lainnya, anggota Troika (2014-2018), serta menjadi Ketua Tim Pengarah (2016).

Apresiasi positif dari berbagai negara anggota dan mitra membuat Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah pertemuan GHSA kelima di Nusa Dua, Bali pada 6-8 November 2018.

Kelebihan forum ini adalah penguatan kerja sama multisektor dan multilaktor, mengingat penanganan ketahanan kesehatan tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan. Selain itu, GHSA juga bermaksud membangun komitmen dari para pimpinan tinggi negara untuk lebih memperhatikan penanganan isu health security.

“GHSA Ministerial Meeting kelima ini mengambil tema Advancing Global Partnership, yang ditujukan untuk lebih mengembangkan kemitraan  yang telah tercipta selama ini, juga potensi kemitraan yang tercipta di masa depan, dari berbagai pihak, baik itu kemitraan  di tingkat global, regional, maupun  nasional,” ungkap Menkes.

GHSA Ministerial Meeting kali ini tidak hanya dihadiri oleh para Menteri Kesehatan dari negara anggota, namun juga Menteri Pertanian.  Di pertemuan ini, Indonesia membawa pendekatan One Health. Maksudnya, kesehatan itu tidak hanya ditujukan kepada manusia namun juga kepada hewan. Karena seperti yang disadari saat ini, penyakit yang diderita oleh hewan akan berdampak kepada manusia, baik secara langsung dan tidak langsung.

Menkes juga berharap, GHSA Ministerial Meeting kelima ini diharapkan lebih banyak pihak akan berperan aktif dalam meningkatkan keamanan kesehatan global, tak hanya dari pemerintah saja, namun juga sektor-sektor lain yang terlibat.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. (gi)

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat
drg. Widyawati, MKM