Lakukan Penataan Blok Pengelolaan dan RPJP Tahura

Lakukan Penataan Blok Pengelolaan dan RPJP Tahura

Gunung Mas – Pemerintah Kabupaten Gunung Mas (Gumas) melalui Dinas Kehutanan dan Pertanahan, menggelar kegiatan konsultasi publik, dalam penataan blok pengelolaan dan rencana pengelolaan jangka panjang ( RPJP) Taman hutan raya Lapak jaru Periode tahun 2019-2028, yang bertempat di Aula pertemuan Hotel Zepanya Gumas, kamis (22/11/2018) pagi.

Dalam mengelola kawasan konservasi berbasis masyarakat merupakan sebuah keharusan untuk tata kelola kawasan Taman Hutan Raya Lapak Jaru , itulah yang dilakukan Dinas kehutanan Kabupaten Gunung Mas didalam mengelola kawasan konservasi yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah, dengan menjadikannya kawasan taman hutan sebagai objek wisata bagi siapa saja yang berkunjung.

Laporan Kepala Dinas Kehutanan dan Pertanahan Kabupaten Gunung Mas Rodi Aristo Robinson, SP dalam rangka konsultasi publik pengelolaan jangka panjang (RPJP) taman hutan raya lapak jaru Kabupaten Gunung Mas di Aula Hotel Zefanya, Jumat (22/11) pagi.

Kegiatan tersebut dibuka Asisten I Setda Ambo Jabar yang didampingi Kepala Dinas Kehutanan Rodi Aristo, Nara sumber Ir. Herman Syafii, M. Si dari Direktorat PIKA, Dian Risdianto, SP, M. Si dari Direktorat KK, dan turut hadir, Kepala OPD Gumas atau yang mewakili serta peserta dari dinas /badan/ kantor terkait.

Dalam sambutan Kepala Dinas Kehutanan dan Pertanahan Rodi Aristo mengatakan untuk maksud dan tujuannya, “ sebagai pedoman dalam pengelolaan kawasan Tahura Lapak Jaru yang terletak di Kabupaten Gunung Mas dan tujuannya, dapat terpetakannya kawasan tahura lapak jaru ke dalam blok blok pengelolaan, sehingga pengelolaan kawasan dapat lebih holistik, berimbang, dan berkelanjutan” tuturnya.

Dalam sambutan Bupati Gunung Mas yang diwakili Asisten I Ambo Jabar mengatakan Pada dasarnya Taman Hutan lapak jaru merupakan kawasan kelola yang memiliki ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyanggah kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta pemamfaatan sumber daya alam dan ekosistemnya secara lestari.

Ia menambahkan untuk Visi dan Misinya yakni “Visi terwujudnya taman hutan raya lapak jaru sebagai pusat konservasi tumbuhan endemik kalimantan, daerah resapan air, media edukasi dan ekowisata bersama masyarakat, sedangkan Misinya mempertahankan keutuhan kawasan dan keanekaragaman hayati yang bernilai penting bagi ekosistem Tahura lapak jaru, mewujudkan kawasan tahura yang ramah terhadap flora dan fauna endemik yang ada didalamnya, dan meningkatkan kerjasama dengan pihak lain untuk penelitian pengembangan ilmu pengetahuan dan perlindungan plasma Nuftah serta mengoptimalkan jasa lingkungan kawasan melalui pengembangan ekowisata” ucap Ambo Jabar.

“Taman hutan raya lapak jaru juga merupakan salah satu taman hutan raya yang terdapat di Kabupaten Gunung Mas Provinsi kalimantan Tengah, yang letaknya sangat strategis, sehingga dangan penting untuk dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya” tutup Ambo Jabar.

Press Realis Bidanf Pengelolaan Informasi Publik.

Hingga 2018, Ada 12 Kasus Kusta di Gunung Mas

Hingga 2018, Ada 12 Kasus Kusta di Gunung Mas

Gunung Mas – Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) bekerjasama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunung Mas (Gumas) melaksanakan pertemuan advokasi, sosialisasi, dan pelatihan singkat kasus kusta tahun 2018.

Arahan Asisten I Setda Gunung Mas Drs. Ambo Jabar (berdiri di podium), ketika memberikan arahan pada kegiatan pertemuan advokasi, sosialisasi, dan pelatihan singkat kasus kusta tingkat Kabupaten Gunung Mas tahun 2018, di Aula BP3D setempat, Kamius (22/11) pagi.

“Pertemuan yang kita laksanakan ini sebagai wujud keseriusan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gumas dalam upaya program pencegahan dan pengendalian kasus kusta, sehingga tercapai eliminasi kusta pada tahun 2024,” ucap Asisten I Setda Gumas Ambo Jabar, di Aula BP3D, Kamis (22/11) pagi.

Berdasarkan laporan, kata dia, memang ada penemuan kasus kusta baru, sehingga Pemkab Gumas pun memberikan perhatian yang lebih besar. Pasalnya penyakit tersebut apabila tidak diobati dengan baik, makan akan dapat menimbulkan kecacatan.

“Dengan pertemuan ini akan mampu mengatasi tantangan dalam program pencegahan dan pengendalian kusta, memutus mata rantai penularannya, sehingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat, serta menghapus stigma dan diskriminasi terhadap penderita penyakit kusta,” ujarnya.

Dia menuturkan, untuk pencegahan dan pengendalian kusta memang diperlukan dukungan masyarakat serta upaya dari pemkab, puskesmas, kecamatan, serta lintas sektor, sehingga dapat menemukan kasus kusta sedini dan bisa mencegah kecacatan pada penderita.

“Tentunya pertemuan ini akan dilakukan secara berkelanjutan, agar masyarakat sadar akan penyakit kusta, memahami deteksi dini kusta, dan berpartisipasi sebagai agen penanggulangan kusta di masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Gumas Maria Efianti mengatakan, tahun 2017, jumlah pasien kusta di daerah ini ada enam kasus, dan tahun 2018 angka kasus yang baru dilaporkan ada lima kasus dengan angka case detection rate (CDR) 4,3 per 100.000 penduduk, dan kasus kambuh atau relaps ada satu kasus.

“Total jumlah kasus kusta hingga mulai 2017-2018 sebanyak per Oktober sebanyak 12 kasus, dengan kasus cacat tingkat 2 sebanyak dua kasus, dan kasus anak ada satu kasus. Dari jumlah tersebut, penderita kusta cenderung terfokus pada kantong-kantong wilayah tertentu di daerah ini,” terangnya.

Dia menambahkan, pertemuan ini bertujuan untuk mensosialisasikan penyakit, situasi, dan kebijakan program pencegahan pengendalian kusta, intensifikasi penemuan kusta, terorientasinya petugas dalam penemuan kasus, tersusunnya jadwal pelaksanaan intensifikasi penemuan kasus kusta.

“Melalui pertemuan tersebut akan dapat meningkatkan komitmen publik, kebijakan, dan dukungan pemkab serta lintas sektor, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan dalam mengenali dan mendiagnosis kusta, meningkatkan kesadaran masyarakat akan penyakit kusta, serta penemuan kasus kusta secara diri,” pungkasnya.

Press Release Bidang Pengelolaan Informasi Publik.