Pelepasan Kontingen Kafilah STQ Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah ke-22

Pelepasan Kontingen Kafilah STQ Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah ke-22

Penyerahan Bendera Kontingen, Oleh Sekda Gunung Mas Drs. Yansiterson, M.Si kepada Pimpinan Kafilah Kabupaten Gunung Mas Drs. H Muhamad Rusdi

Gunung Mas – Sekda Gunung Mas Drs. Yansiterson, M.Si melepas keberangkatan 70 orang kafilah seleksi Tilawatil QUR’AN XXII tingkat Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2019. Terdiri dari panitia pelatih, pendamping, dan petugas lainnya kegiatan digelar di halaman Mesjid Darunnajah Kuala Kurun, Selasa (23/04/2019).

Turut hadir Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Drs. Ambo Jabar, M.Si, Asisten  Perekonomian Ir. Yohanes Tuah, M.Si, Staf Ahli Bupati Gunung Mas Bidang Politik, Hukum dan Pemerintahan dr. Makmur Ginting, M.Kes, mewakili dari pihak Kejaksaan,  Ketua MUI H Pahmi dan pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (STQ) Kabupaten Gunung Mas.

Drs. Yansiterson, M.Si saat membacakan sambutan tertulis Bupati Gunung Mas Drs. Arton S Dohong mengatakan bahwa, MTQ/STQ adalah pesta seni baca Al-Qur’an, yang selalu dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat Kecamatan, Kabupaten, Provinsi, tingkat Nasional bahkan sampai tingkat Internasional, karena kegiatan ini merupakan program nasional.

”Digelarnya pesta seni baca Al-Qur’an dengan segala cabang-cabangnya diharapkan dapat memberi motivasi untuk lebih menggairahkan umat Islam agar senantiasa mencintai kitab sucinya, mempelajari bacaanya, menelaah isi kandungannya dan mengaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” pesen Sekretaris Daera.

Sekda Gunung Mas Drs. Yansiterson, M.Si membacakan sambutan tertulis Bupati Gunung Mas pada kegiatan pelepasan kafilah Kabupaten Gunung Mas, mengikuti seleksai tilawatil Qur’an (STQ) XXII tingkat Provinsi Kal-Teng di Kota Palangka Raya, Selasa (23/04).

Dengan semangat “Habangkalan Penyang Karuhei tatau”, Pemerintah Kabupaten Gunung Mas menyambut gembira atas keikutsertaan Kafilah STQ Kabupaten Gunung Mas dalam event MTQ ke-22 Tingkat Provinsi Kalimantan Tengan (Kalteng) tahun 2019 di Kota Palangka Raya. Harapan kami dan kita semua bahwa kalian memperoleh sukses, mengukir prestasi dan meraih juara.

”Ia juaga berpesan kepada seluruh para kafilah, official dan pendamping agar menunjukkan semangat dan disiplin yang tinggi. Dan andaikan nanti belum berhasil maka janganlah berputus asa, belajar dan belajarlah dengan tekun. Agar menjadi satu tim yang solid dan kompak untuk meraih prestasi yang membanggakan serta menjaga kekompakan nama baik daerah,” pungkasnya.

Usai pelepasan Kapilah, Drs. Yansiteron, M.Si berjabatan dengan kontingen kafilah STQ.

Pimpinan Kafilah Kabupaten Gunung Mas Drs. H. Muhamad Rusdi mengatakan, Kontingen Kabupaten Gunung Mas akan mengikuti 6 cabang lomba yang terdiri dari Cabang tilawah semua golongan putra-putri, cabang Hifzil-Qur’an 1 juz 5 juz dan 10 juz, cabang Fahmil-Qur’an putra (1 regu = 3 oarang), cabang syarhil-Qur’an putri (1 regu=3 orang), cabang Khatil-Qur’an semua golongan putra-putri, cabang Makalah Al-Qur’an putra-putri.

Tanggal 24 April 2019 acara keberangkatan kafilah Kabupaten Gunung Mas dari Kuala Kurun menuju Kota Palangka Ray, tanggal 24-25 April 2019 penerimaan kafilah, pendaftaran peserta lomba dan malam ta’aruf, tanggal 26 April 2019 mengikuti kegiatan pawai ta’aruf technical meeting dan acara pembukaan.pada tanggal 27-29 April 2019 mengikuti seluruh rangkaian perlombaan STQ.

”Dikatakannya,  Kendala yang dihadapi oleh kafilah Kabupaten Gunung Mas tidak bisa mengikuti seluruh perlombaan seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) XXII tingkat Provinsi Kalimantan Tengah, karena pembinaan dan keterbatasan, dari tahun ketahun sudah ada peningkatan,” jelas Drs. Muhamad Rusdi.

KALA KEMARAU MENGUJI, 650 UNIT SUMUR BOR JADI SOLUSI

KALA KEMARAU MENGUJI, 650 UNIT SUMUR BOR JADI SOLUSI

Telapak kaki mengering, peluh tak terasa beriring turun dari wajah yang legam. Tiberius, lelaki paruh baya yang setiap pagi memikul beban di bahunya sering merasa lunglai terutama saat matahari mulai beranjak tinggi. Enam jeriken, tiga kali balikan menuruni tebing curam sepanjang hampir 60 meter untuk mencapai sumber air dari galian sederhana, bukan hal yang mudah bagi pria seumurnya.

Tidak hanya Tiberius (50), hampir seluruh warga Desa Bolatena, Kecamatan Landu Leko,  Kabupaten Tote Ndao, Nusa Tenggara Timur melakukan hal yang serupa. Kebutuhan akan air jernih berbanding terbalik dengan ketersediaan di desa mereka. Keadaan geografis membuat air bersih menjadi langka, terutama kala kemarau tiba, saat beberapa sumber air yang berada dekat desa menghilang atau berkurang. Dari sisi geologis, Desa Bolatena berada di daerah gamping terumbu yang keras dan padu dengan dialasi Formasi Bobonaro yang tersusun oleh batu lempung laut dalam sehingga keterdapatan air tawar di daerah ini menjadi jarang.

Untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari  warga harus membeli air bersih yang dikirim dengan mobil tangki dari Ba’a, ibukota Kabupaten Rote Ndao yang berjarak 2 jam perjalanan menuju Desa Bolatena. Karena alasan jarak dan kondisi jalan yang buruk di sekitar desa, tidak jarang pesanan ditolak atau dibatalkan.

Harapan warga datang ketika Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Geologi membangun sumur bor di Desa Bolatena, yang dapat melayani hingga 2800 jiwa. Sumur dengan kedalaman sekitar 125 sampai 126 meter tersebut mengalirkan air dengan debit antara antara 1,50 hingga 2,30 liter per detik. Pasokan listriknya berasal dari genset dengan kapasitas 12,5 kVA, menggunakan pompa selam (submersible) 3 PK dan dilengkapi dengan bangunan rumah genset, rumah pompa dan bak penampungan air berkapasitas 5.000 liter.

Rasa senang dan lega terluap dari wajah Tiberus selaras dengan kucuran air dari keran sumur bor tak jauh dari rumahnya. Tulang-tulangnya yang tak lagi muda kini bisa sedikit rehat dari beban enam jeriken penuh air yang ia pikul ber kilo-kilo meter. Masak, mandi, cuci kini lebih nyaman karena air bersih tercukupi. “Sekarang cari air gak perlu susah-susah lagi, dulu harus jalan kaki 5 km, sekarang cukup 10 meter sudah ada air,” ungkap Tiberus senang.

Rasa syukur juga diungkapkan Yunus Welem Johannes (59 tahun), ketua adat desa Bolatena atau disebut Maleno. Melihat warganya tak perlu berjalan jauh memikul jeriken sampai ke sumber air adalah hal yang dinantikannya sejak lama. “Terima kasih pada Bapak Presiden, kami masih teringat dan terukir dihati kami ketika beliau di Rote Dhao pada tanggal 8 Januari 2017 beliau mengatakan Desa Bolatena dan Desa Oebela ini kekurangan air bersih, janji tidak hanya janji tapi janji suuda ditepati, suka citalah kami,” ungkap Yunus saat persemian sumur bor di Desa Bolatena (28/2).

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian ESDM IGN Wiratmaja mewakili Menteri ESDM berpesan kepada warga untuk menjaga sumur bor yang dibangun melalui APBN Kementerian ESDM tahun 2018 ini. “Harapan kami, karena sumur bor ini dibangun menggunakan APBN, hendaknya dimanfaatkan dan dirawat dengan baik sehingga dapat memberikan manfaat yang besar untuk meningkatkan taraf hidup dan ekonomi masyarakat”, ungkap Wiratmaja.

Badan Geologi merupakan unit kerja di bawah Kementerian ESDM yang memiliki tugas fungsi salah satunya di bidang air tanah yaitu melaksanakan pelayanan kepada masyarakat dalam hal penyediaan sarana air bersih melalui pengeboran air tanah dalam di daerah sulit air.

Tidak hanya di Desa Bolatena, program pembangunan sumur bor oleh Badan Geologi Kementerian ESDM telah banyak dirasakan manfaatnya oleh desa lain yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.  Sejak tahun 2005 hingga tahun 2018, Kementerian ESDM telah membangun sebanyak 2.288 unit sumur bor dengan kapasitas debit air bersih mencapai sekitar 144,4 juta m3/tahun dan dapat melayani kurang lebih 6,6 juta jiwa. Sepanjang tahun 2018, dibangun 506 titik sumur bor di 175 Kabupaten/Kota dan 55 titik sumur bor untuk pengungsi bencana Bali, Lombok dan Sulawesi.

Pada tahun 2019 Kementerian ESDM kembali merencanakan pembangunan 650 titik sumur bor air bersih untuk masyarakat di daerah sulit air yang tersebar di seluruh Indonesia, terletak di 232 Kabupaten/Kota di 31 Provinsi. Dengan adanya program ini, diharapkan permasalahan sulit air bersih dapat dikurangi sehingga setiap warga Indonesia bisa mendapatkan haknya untuk menikmati air bersih.

#SumurBorUntukRakyat
#ProgramKerja
#EnergiBerkeadilan


5 TAHUN KEMBANGKAN PARIWISATA HALAL, INDONESIA AKHIRNYA RAIH PERINGKAT PERTAMA WISATA HALAL DUNIA 2019

5 TAHUN KEMBANGKAN PARIWISATA HALAL, INDONESIA AKHIRNYA RAIH PERINGKAT PERTAMA WISATA HALAL DUNIA 2019

Jakarta, 15 April 2019 – Indonesia kembali menorehkan prestasi di level internasional dengan diraihnya peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal dunia versi GMTI (Global Muslim Travel Index) 2019, yang diumumkan oleh CrescentRating – Mastercard.

Prestasi ini merupakan kabar gembira yang tidak hanya dirasakan oleh Kementerian Pariwisata saja selaku Kementerian yang menangani pengembangan wisata halal di Indonesia, namun juga bagi seluruh bangsa Indonesia. Setelah lima tahun fokus pada pengembangan pariwisata halal, Indonesia akhirnya mampu menunjukkan potensinya sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia.

Prestasi baru ini telah disampaikan secara langsung oleh CEO CrescentRating dan juga halaltrip.com, Fazal Bahardeen, bertempat di Hotel Pullman Jakarta, Selasa (09/04) dan dihadiri langsung oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Republik Indonesia, Arief Yahya, dan didampingi oleh Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan, Ni Wayan Giri Adnyani, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I, Rizki Handayani, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Kawasan Pariwisata sekaligus selaku Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal, Anang Sutono, dan Pengarah Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal, Riyanto Sofyan.

Fazal menyampaikan jika tahun 2019 akhirnya Indonesia menduduki peringkat pertama wisata halal dunia versi GMTI 2019, bersanding dengan Malaysia. “Setelah bergabung dalam GMTI, tahun ini, Indonesia patut berbangga karena akhirnya mampu menduduki peringkat pertama wisata halal dunia, bersanding dengan Malaysia, dengan total skor 78”, ungkap Fazal.

Selain Indonesia dan Malaysia, urutan ranking wisata halal dunia versi GMTI diraih oleh Turki di posisi ketiga (skor 75), Arab Saudi di posisi keempat (skor 72), serta Uni Emirat Arab di posisi kelima (skor 71). Negara lain yang masuk dalam top 10 wisata halal dunia lainnya antara lain Qatar (skor 68), Maroko (skor 67), Bahrain (skor 66), Oman (skor 66), dan Brunei Darussalam (skor 65).

Senada dengan Fazal, Menpar yang hadir dalam acara tersebut tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya dan secara khusus mengucapkan terima kasih pada seluruh jajaran Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal yang telah bekerja keras sehingga prestasi baru ini berhasil diraih untuk Indonesia.

“Saya ucapkan selamat bagi seluruh Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal yang akhirnya berhasil mewujudkan mimpi Indonesia sebagai destinasi wisata halal terbaik di dunia, tahun ini. Saya harapkan prestasi ini akan memacu destinasi wisata lain di Indonesia untuk segera mengembangkan wisata halal di masing-masing daerahnya, karena kita mampu, Indonesia mampu dan layak untuk dikenal dunia” imbuh Menpar.

Pengembangan pariwisata halal Indonesia merupakan salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata yang sudah dikerjakan sejak lima tahun yang lalu. Data GMTI 2019 menunjukkan bahwa hingga tahun 2030, jumlah wisatawan muslim (wislim) diproyeksikan akan menembus angka 230 juta di seluruh dunia. Selain itu, pertumbuhan pasar pariwisata halal Indonesia di tahun 2018 mencapai 18%, dengan jumlah wisatawan muslim (wislim) mancanegara yang berkunjung ke destinasi wisata halal prioritas Indonesia mencapai 2,8 juta dengan devisa mencapai lebih dari Rp 40 triliun. Mengacu pada target capaian 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang harus diraih di tahun 2019, Kementerian Pariwisata menargetkan 25% atau setara 5 juta dari 20 juta wisman adalah wisatawan muslim.

Peluang inilah yang ditangkap oleh Kementerian Pariwisata, dan ditindaklanjuti dengan pengembangan 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional di tahun 2018 yang mengacu standar GMTI, antara lain: Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur (Malang Raya), Lombok, dan Sulawesi Selatan (Makassar dan sekitarnya). Tahun ini, penguatan destinasi pariwisata halal dilakukan dengan menambah keikutsertaan 6 Kabupaten dan Kota yang terdapat di dalam wilayah 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional, yaitu Kota Tanjung Pinang, Kota Pekanbaru, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Cianjur.

Untuk meriah prestasi baru ini, Indonesia melalui Kementerian Parwisata juga telah rutin melakukan bimbingan teknis (bimtek) serta workshop di 10 destinasi pariwisata halal unggulan. Guna mendorong percepatan pengembangan destinasi pariwisata halal nasional berstandar global, Kementerian Pariwisata menyelenggarakan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) pada tahun 2018 dan 2019. Penilaian IMTI dilakukan langsung oleh CrescentRating-Mastercard yang bekerjasama dengan Indonesia dengan menggunakan empat indikator utama yang telah ditetapkan oleh GMTI yakni: accessibility (aksesibilitas), communication (komunikasi), environment (lingkungan) dan service (layanan). Hasil penilaian dari empat aspek utama tersebut secara otomatis akan menentukan top 5 destinasi wisata halal prioritas Indonesia.

CrescentRating-Mastercard juga telah mengumumkan bahwa top 5 destinasi wisata halal prioritas Indonesia 2019 secara berturut-turut diraih oleh Lombok (Nusa Tenggara Barat) dengan skor 70, Aceh dengan skor 66, Riau dan Kepulauan Riau dengan skor 63, DKI Jakarta dengan skor 59, serta Sumatera Barat dengan skor 59. Penganugerahan bagi lima destinasi wisata halal prioritas serta 11 destinasi wisata halal lainnya telah dilaksanakan oleh Menpar minggu lalu bertempat di Bidakara Hotel, Selasa (09/04) dan dihadiri langsung oleh perwakilan dari masing-masing Provinsi/Kota/Kabupaten destinasi wisata halal tersebut. Selain acara penganugerahan, Kemenpar juga melakukan penandatanganan kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Kemenpar yang diwakili oleh Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan, Ni Wayan Giri Adnyani bersama perwakilan CEO Provinsi/Kota/Kabupaten dari 16 destinasi wisata halal prioritas, sebagai bukti komitmen Kepala Daerah dalam mengembangan pariwisata halal di masing-masing daerahnya.

(Tim Komunikasi Pemerintah Kemenkominfo dan Biro Komunikasi Publik, Kementerian Pariwisata RI)

 

 

 

 

AMMDES BERPERAN PACU PRODUKTIVITAS DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DESA

AMMDES BERPERAN PACU PRODUKTIVITAS DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DESA

Kementerian Perindustrian secara konsisten dan berkelanjutan terus mendorong pemanfaatan dan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) untuk produktivitas masyarakat desa. Kehadiran AMMDes sejalan dengan fokus pemerintah dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Kami mendorong upaya membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa yang diwujudkan melalui pendekatan untuk mengatasi ketimpangan dan mengembangkan potensi yang ada di pedesaan,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Tangerang, Banten, Senin (15/4).

AMMDes secara resmi telah diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo dan Menperin pada event Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2018. “AMMDes merupakan salah satu produk modernisasi yang masuk dalam program kerja Jokowi-JK. Karena itu, diharapkan alat multifungsi ini dapat meningkatkan produktivitas sehingga dapat juga membawa kesejahteraan masyarakat,” papar Airlangga.

Menurut Menperin, alat untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat di pedesaan tersebut telah melalui berbagai tahapan pengembangan dan uji coba. Saat ini, AMMDes diproduksi oleh PT Kreasi Mandiri Wintor Indonesia (KMWI) mempunyai model dasar yang dilengkapi dengan flat deck dan fitur power take off (PTO).

“Mesin diesel yang digunakan pada model ini telah mengalami penyesuaian untuk mendapatkan performa yang lebih baik di medan off road dan berbukit,” ujarnya. Model ini juga mengaplikasikan sistem penggerak tunggal yang dirancang dengan kecepatan maksimal 30 km per jam dan kapasitas silinder sebesar 650 cc atau setara dengan 14 HP.

Selain itu, model ini dilengkapi dengan differential lock sebagai fitur pengunci roda belakang sehingga dapat bergerak secara bersamaan untuk menambah traksi saat melintasi jalan yang buruk. “Saat ini, AMMDes telah diproduksi massal dengan pengembangan aplikasi untuk pertanian, perkebunan, perikanan, kesehatan, dan tanggap darurat bencana,” imbuhnya.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto mencontohkan, AMMDes telah dikembangkan dengan dilengkapi alat pengolah air jernih. Fungsi AMMDes ini sudah dimanfaatkan di tiga wilayah yang terkena dampak gempa di Provinsi Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu, yakni di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala melalui bantuan lima unit dari Kemenperin.

Bagi masyarakat desa atau dalam kondisi darurat bencana, kebutuhan air bersih sangat penting untuk mendukung berbagai aktivitas. “Kebutuhan air bersih memang sangat penting, karena selain untuk minum, juga misalnya digunakan untuk memasak dan lainnya,” ungkap Harjanto.

“Bahkan, saat ini telah dikembangkan AMMDes yang dilengkapi dengan unit ice flake atau pembuat es serpihan yang cocok untuk nelayan,” tuturnya. Menariknya lagi, kini AMMDes mampu dikembangkan sebagai feeder ambulans di wilayah-wilayah yang bermedan berat dan juga minim infrastruktur jalan. Fungsi ini diyakini akan mengurangi jumlah kematian ibu melahirkan di Indonesia.

Oleh karena itu, Kemenperin terus mendorong pengembangan AMMDes sebagai salah satu karya anak bangsa yang perlu diapresiasi karena wujud kemandirian industri nasional.

“Komponen lokal AMMDes sudah lebih dari 70 persen. Untuk muatan penuhnya bisa mencapai 700 kg dan variasi kemiringan 20 hingga 30 derajat. AMMDes dilahirkan karena melihat infrastruktur atau jalan desa, sehingga dapat dimanfaatkan di jalan yang sangat ekstrim,” paparnya.

Terkait produksi, saat ini KMWI memiliki kapasitas produksi sebanyak 3.000 unit per tahun. Rencananya perusahaan akan meningkatkan kapasitas terpasangnya menjadi 12 ribu unit per tahun di 2020.

AMMDes Summit

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kemenperin Putu Juli Andika menambahkan, dalam upaya perluasan pemanfaatan AMMDes yang bertujuan meningkatkan produktivitas dan perekonomian pedesaan, Kemenperin dan PT Kreasi Mandiri Wintor Indonesia (KMWI) menggelar “The 2nd AMMDes Summit and Exhibition yang dilaksanakan pada tanggal 15 – 16 April 2019 di Nusantara Hall – ICE BSD City.

Kegiatan tersebut mengusung tema  “AMMDes Untuk Produktivitas dan Kesejahteraan Masyarakat Desa”. “Jadi, acara ini merupakan kelanjutan dari kegiatan tahun 2018 yang bertujuan untuk mendorong peningkatan pemanfaatan AMMDes untuk memenuhi berbagai kebutuhan kegiatan ekonomi masyarakat pedesaan,” jelasnya.

Perhelatan tersebut, terdiri atas seminar dengan tema “Peningkatan Peran AMMDes Dalam Mendorong Percepatan Pembangunan Ekonomi Pedesaan” dan Focus Group Discussion (FGD) dengan topik yaitu “Pengembangan Bisnis Model AMMDes dan Perluasan Kerjasama Pengembangannya” serta “Pengembangan R&D&D AMMDes dan Komponen Pendukung Dalam Rangka Meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri”.

Lebih lanjut, event ini bertujuan membahas pemanfaatan aplikasi AMMDes untuk meningkatkan produktivitas dan memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat pedesaan serta membahas penguatan Research, Design and Development (R&D&D) AMMDes dan komponen pendukungnya.

Tujuannya untuk meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta exhibition yang akan menampilkan beberapa unit AMMDes dengan aplikasi perontok padi, penjernih air, Ice Flake Maker, pengolah kopi, pemoles beras, generator listrik, pascapanen pisang, dan ambulance feeder.

Selain itu, juga dilakukan penandatangan Letter of Intent antara PT. Kreasi Mandiri Wintor Distributor sebagai perusahaan distribusi AMMDes-KMW dengan PT. Repindo Jagad Raya tentang rencana ekspor AMMDes ke Timor Leste dan Papua Nugini serta serah terima AMMDes Ambulance Feeder sebanyak dua unit dari PT. KMWI kepada United States Agency for International Development (USAID).

“Kegiatan ini merupakan langkah awal membangun komitmen untuk mendukung pemanfaatan dan kerja sama pengembangan AMMDes-KMW melalui pilot project, serta membangun kerja sama dalam hal R&D&D komponen pendukung untuk peningkatan TKDN,” papar Putu. Ke depannya, diharapkan AMMDes dapat memberikan kontribusi lebih besar dalam upaya meningkatkan laju perekonomian masyarakat di pedesaan.

 

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.
Tangerang, 16 April 2019
BIRO HUBUNGAN MASYARAKAT