Petani Tetap Produktif Saat Musim Kemarau

Petani Tetap Produktif Saat Musim Kemarau

Jakarta – Sejak beberapa bulan terakhir, sejumlah sentra produksi pertanian terdampak musim kemarau. Tapi kekeringan tak menyurutkan petani Indonesia untuk berproduksi padi. Sejumlah langkah strategis turut dijalankan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) untuk memastikan petani tetap bisa tanam dan panen di segala musim.

Perhatian besar yang diberikan Kementan melalui sejumlah langkah strategis tidak lepas dari arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang meminta jajarannya untuk mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian. “Semua turun tangan untuk meyakinkan bahwa kekeringan bukan halangan tetapi kesempatan. Seluruh pejabat Kementan turun ke lapangan untuk membantu petani mencari sumber air, mempertahankan pertanaman, dan bisa tetap panen,” ungkap Amran.

Sebagai sesuatu yang niscaya, musim kering selayaknya tidak menjadi halangan untuk berproduksi. Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Sumarjo Gatot Irianto justru berkeyakinan bahwa musim kemarau bisa menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi jika dikelola dengan baik. “Musim kemarau bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin karena hama lebih sedikit, sinar matahari cukup baik untuk fotosintesis dan proses pengeringan. Jadi kualitas gabah lebih baik, biaya produksi juga bisa ditekan,” jelasnya optimis.

Kemarau juga meruapakan kesempatan untuk mendorong Perluasan Areal Tanam Baru (PATB). Untuk itu, Kementan mendorong program pertanaman padi tidak hanya memanfaatkan lahan sawah, tapi juga mengoptimalkan lahan rawa dan kering.Pada musim kemarau, rawa yang semula tinggi muka air 1 meter, pada musim kering turun menjadi 20-30 cm. Lahan rawa sebagai lahan sub optimal memiliki potensi luas 12,3 juta hektare, namun pemanfaatannya belum optimal. Dari potensi tersebut, baru dimanfaatkan seluas 4,5 juta hektare (36,8%) untuk produksi pertanian.

Sementara itu, luas lahan kering di Indonesia juga sangat besar, yakni 28,5 juta hektar termasuk  ladang, tegalan dan lahan yang tidak diusahakan menjadi PATB. “Pemerintah mendorong petani untuk menanam padi gogo. Targetnya tahun ini pertanaman 1 juta hektare pada tahun 2018 ini,” terang Gatot.

Selain pemanfaatan lahan suboptimal, Kementan juga memastikan lahan sawah masih tetap dapat dioptimalkan untuk menanam komoditas pangan, namun perlu diimbangi dengan upaya penyediaan air. “Pada musim kemarau, produksi padi sawah dapat diantisipasi dengan memanfaatkan embung, bendungan dan waduk. Selain itu, perbaikan sistem irigasi cukup bisa mengantisipasi dampak kekeringan,” ujarnya.

Melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP), Kementan mendistribusikan bantuan pompa air. Tahun 2018 ini sudah tersebar bantuan pompa air ukuran kecil (3 inchi) sebanyak 7.315 unit, pompa air ukuran sedang (4 inchi) sebanyak 7.132 unit, serta pompa ukuran besar (6 inchi) sebanyak 1.964  unit. “Kami meminta daerah untuk dapat menggerakkan bantuan pompa air ke wilayah-wilayah yang masih memungkinkan untuk mengoptimalkan sumber daya air yang ada,” tutur Pending.

Kementan juga membentuk tim khusus yang secara langsung terjun ke lapangan untuk berkoordinasi dengan sejumlah pihak melakukan pemetaan dan mitigasi terhadap daerah sentra produksi pertanian. “Kami turunkan tim khusus untuk berkoordinasi dengan pihak terkait, antara lain TNI, Kementerian PUPR, serta Pemerintah Daerah setempat dalam memetakan permasalahan, negosiasi penggelontoran air dari Bendungan, serta terlibat langsung melaksanakan pengawalan gilir giring sesuai jadwal yang telah disepakati,” ungkap Pending.

Kementan juga turut mengaplikasikan sejumlah teknologi adaptasi untuk menanggulangi dampak kekeringan, di antaranya adalah penerapan Biopori dan Sumur Suntik. Pembuatan lubang bipori selain untuk mengantisipasi terjadinya banjir dengan membuat air hujan cepat meresap ke dalam tanah, juga membuat tanah tidak cepat kehilangan air pada saat musim kemarau. Sementara, pembuatan sumur suntik diharapkan dapat menjadi alternatif sumber pengairan pada saat memasuki  musim kemarau, terutama pada sawah tadah hujan.

Dengan langkah tersebut, Kementan optimis produktivitas padi tetap terjaga untuk memenuhi kebutuhan nasional. Data Ditjen TP Kementan menunjukkan bahwa dampak kekeringan bisa diminimalisir. Dari 10 juta hektare luas tanam padi periode Januari- Agustus 2018, luas areal yang kekeringan hanya 135 ribu hektare atau 1,37 persen. Itu sudah termasuk yang terkena puso atau gagal panen yang hanya 0,26 persen atau 26.438 hektar dari total luas tanam.

 

Haornas 2018, Bangun Indonesia Menuju Olimpiade 2032

Haornas 2018, Bangun Indonesia Menuju Olimpiade 2032

Ternate, 9 September 2018 – Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi berharap momentum Hari Olahraga Nasional (Haornas) dapat mendorong masyarakat berolahraga. Kesadaran masyarakat untuk berolahraga menjadi penting dengan adanya bonus demografi 2030 dan harapan Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Puncak acara Haornas 2018 berlangsung di Stadion Kei Raha, Ternate. Ini adalah pertama kalinya puncak acara Haornas digelar di luar pulau Jawa sepanjang sejarah. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat berolahraga di wilayah timur Indonesia, yang kemudian menular ke wilayah-wilayah lain.

“Kita telah mencapai sukses prestasi pada Asian Games 2018. Kita jauh melampaui target, mendapatkan 31 emas dan menempati peringkat keempat. Target selanjutnya tentu menjaga dan bahkan meningkatkan hasil positif tersebut di ajang-ajang multi-event selanjutnya, terutama Olimpiade,” ucap Menpora Imam Nahrawi.

Menteri asal Bangkalan tersebut mengingatkan dua warisan dari Asian Games, yakni masyarakat yang berolahraga dan infrastruktur kelas dunia. Haornas diharapkan mampu merawat dan bahkan mendorong percepatan kebangkitan olahraga nasional secara merata.

“Tidak ada prestasi tanpa partisipasi. Haornas bukan hanya soal menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk berolahraga yang berujung dengan lahirnya atlet-atlet elit. Melainkan juga partisipasi aktif semua pihak, termasuk swasta, untuk misalnya menjadi Bapak Angkat cabang olahraga atau membangun sarana-sarana olahraga di seluruh penjuru negeri,” tutur dirinya.

Indonesia akan menghadapi bonus demografi pada 2030. Menpora menilai situasi ini perlu dimaksimalkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia melalui olahraga.

Menpora mengatakan bahwa budaya masyarakat yang berolahraga memiliki efek berganda (multiplier effect). Sumber daya manusia yang sehat secara fisik, mental, dan spiritual adalah kunci keberhasilan dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompetitif di pelbagai sektor.

Ini semua sesuai dengan bulir Nawacita ke-9 yang berbunyi: “Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial melalui penguatan pendidikan kebhinekaan dan ruang-ruang dialog antarwarga melalui aktivitas olahraga”.

 

Olahraga Untuk Semua

Tepat di puncak acara Haornas 2018, akan dimulai juga Pawai Obor (Torch Relay) Asian Para Games 2018. Asian Para Games 2018 sendiri akan digelar di Jakarta pada 6-13 Oktober mendatang. Total ada 43 negara peserta di Asian Para Games 2018. Atlet yang berpartisipasi sebanyak 2888 orang, ditambah lebih dari 1000 official.

“Setelah Asian Games 2018, kita bersiap menggelar Asian Para Games 2018. Mari kita lanjutkan semangat berapi-api yang telah kita tunjukkan dan memukau dunia selama Asian Games 2018 ke Asian Para Games 2018,” kata Menpora Imam Nahrawi.

Menteri yang gemar bermain bulutangkis tersebut menilai Asian Para Games 2018 adalah sebuah momentum besar bagi bangsa Indonesia untuk memperkuat persatuan. Ia menegaskan bahwa olahraga tidak pernah membeda-bedakan dan olahraga adalah hak setiap golongan. Dengan Asian Para Games 2018 ini, diharapkan masyarakat penyandang disabilitas mampu lebih dihargai dan diterima oleh publik.

“Mereka ini adalah para inspirasi kita. Di tengah keterbatasan, mereka terus berjuang tanpa kenal kata menyerah hingga meraih prestasi,” ujar dirinya. Infrastruktur yang ramah bagi para disabilitas pun telah dibangun untuk memastikan kelancaran dan kesuksesan Asian Para Games 2018. Menpora berharap kedepannya pembangunan sarana olahraga di seluruh Indonesia akan mengakomodasi para disabilitas.

Indonesia Tawarkan Solusi Cerdas dan Inovatif dalam Pertemuan Negara Kepulauan dan Negara Pulau ke-2

Indonesia Tawarkan Solusi Cerdas dan Inovatif dalam Pertemuan Negara Kepulauan dan Negara Pulau ke-2

Maritim — Jakarta, Tahun 2018, Indonesia kembali mengadakan Pertemuan Tingkat Pejabat Tinggi (SOM) AIS ke-2 sebagai tindak lanjut dari SOM pertama yang diselenggarakan pada Bulan November 2017. Forum ini merupakan kerja sama kedua antara Kemenko Bidang Kemaritiman dengan United Nations Development Program (UNDP). 2nd SOM AIS diselenggarakan pada tanggal 6-8 September 2018 di Jakarta dengan mengundang 46 negara Kepulauan dan Negara Pulau yang berada di Kawasan Asia dan Afrika. Negara-negara yang diundang antara lain Singapura, Palau, Mauritius, Saint Kitts And Navis, New Zealand, dan United Kingdom. Country Director UNDP Christophe Bahuet turut hadir dalam forum AIS ke-2.

Pada saat membuka forum ini pada Hari Kamis (6-9-2018), Menko Maritim Luhut Pandjaitan menegaskan perlunya negara-negara kepulauan dan negara pulau bersatu sebagai garda terdepan untuk mengambil langkah nyata mengatasi dampak perubahan iklim. “Sebagai negara-negara yang paling rentan oleh dampak perubahan iklim seperti kenaikan permukaan air laut, kenaikan kadar keasaman laut, pemutihan karang, penangkapan ikan illegal maupun bencana alam yang terjadi di laut, kita harus segera mengambil langkah nyata,” ajak Menko.

Senada, dalam kesempatan tersebut, Country Director UNDP Christophe Bahuet  mengatakan bahwa gerakan pusat aksi laut UNDP menaksir pasar industri kelautan dan sumber daya pesisir secara global nilainya antara USD  3 hingga 6 triliun per tahun. “Bila kita gagal melindungi laut kita dan gagal menangani dampak perubahan iklim maka akan terjadi bencana sosial dan ekonomi yang besar bagi masyarakat dunia,” serunya. Oleh karena itu, Bahuet menyebutkan pentingnya kerjasama UNDP dengan Pemerintah Indonesia dalam melakukan intervensi strategis yang inovatif serta efektif dalam mengatasi dampak perubahan iklim.

Terkait fakta diatas, pertemuan tingkat pejabat senior AIS kedua membahas tentang sampah plastik laut, pengembangan ekonomi biru, adaptasi terhadap perubahan iklim, tata kelola pemerintahan yang baik, manajemen bencana, perikanan berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi. “Forum ini bukan sekedar seremoni, tapi kita ingin tawarkan berbagai solusi inovatif dan cerdas dalam bentuk saling tukar menukar pengalaman dan informasi, bantuan teknis berupa pelatihan peningkatan kapasitas untuk mengatasi berbagai isu kelautan serta skema pendanaan proyek-proyek penanganan dampak perubahan iklim,” jelas Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman Purbaya Yudhi Sadewa yang menjadi co chair dalam forum tersebut.

Lebih jauh, Purbaya menambahkan bahwa forum AIS akan menjadi platform pengembangan (bukan platform yang digerakkan oleh politik atau hanya ekonomi) tetapi sebuah platform untuk berbagi pengetahuan dan kerja sama teknis. “Maka dari itu, kami mengundang para pejabat senior dari negara kepulauan dan negara pulau yang memiliki kemampuan teknis dalam hal kemaritiman terutama di bidang kelautan, pariwisata dan lingkungan,” jelasnya.

Rencananya, setelah pelaksanaan pertemuan SOM AIS kedua, Pemerintah Indonesia dan UNDP akan menggelar pertemuan tingkat Menteri negara-negara AIS pada tanggal 1-2 November 2018 di Menado, Sulawesi Tenggara. Menko Maritim Luhut Pandjaitan dijadwalkan akan hadir dan membuka pelaksanaan Pertemuan Tingkat Menteri yang difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara itu. “Kami ingin memperoleh komitmen global untuk mengatasi dampak perubahan iklim dan mencapai target SDG nomor 14,” tambah Purbaya.

Dalam kesempatan yang sama, Asisten Deputi Bidang Navigasi dan Keselamatan Maritim Odo Manuhutu menjelaskan bahwa selain tawaran kerja sama teknis, pemerintah Indonesia juga menawarkan hal berbeda dalam pertemuan AIS kedua ini. “Kita ingin membuka akses kerja sama dengan organisasi kepemudaan maupun start up Indonesia di bidang kemaritiman khususnya  bidang kelautan, pariwisata dan lingkungan,” bebernya.

Jika dalam pertemuan 1st SOM AIS dilakukan diskusi untuk menghasilkan solusi mengenai permasalahan riil yang dihadapi oleh negara kepulauan dan negara pulau, serta melakukan kunjungan ke berbagai lembaga seperti BMKG, Pushidros-AL dan LIPI, maka pada pertemuan 2nd SOM AIS tidak hanya berdiskusi namun juga disampaikan paparan dari para narasumber. “Agar forum ini mampu menghasilkan solusi yang nyata, kita juga menghadirkan berbagai narasumber yang memiliki kompetensi di bidang kemaritiman dalam dan luar negeri juga  melibatkan secara langsung generasi muda, LSM dan start up di bidang yang sama,” tambah Odo.

Selain berdiskusi, para delegasi juga diajak untuk melihat secara langsung upaya pemerintah Indonesia untuk melakukan upaya penanganan dampak perubahan iklim dan pengelolaan sampah di wilayah kepulauan. Lebih lanjut, Odo menjelaskan bahwa pada hari ketiga pelaksanaan forum AIS tersebut, para peserta diajak mengunjungi fasilitas konservasi mangrove serta pelestarian penyu di Pulau Pramuka Kabupaten Kepulauan Seribu.

Sebagai informasi, forum AIS diinisiasi oleh pemerintah Indonesia sebagai bentuk implementasi komitmen untuk menangani dampak perubahan iklim. Pemanasan global yang memicu perubahan iklim menyebabkan gleiser dan es di kutub-kutub bumi mencair. Akibatnya, permukaan laut naik hingga masuk ke wilayah pesisir atau daratan. Di Indonesia, pemanasan global ini salah satunya berdampak pada tenggelamnya 2 dukuh di  Kabupaten Demak karena banjir rob. Menurut Bupati Demak, luas wilayah Demak adalah 89.743 hektare dengan panjang pantai  34 Km, namun, abrasi mencapi 798 hektare.

Analisis lain menyebutkan, Departemen Kelautan Perikanan RI dan PBB pada tahun 2009 menemukan bahwa sekitar 2000 pulau kecil di Indonesia akan lenyap pada tahun 2030 karena dampak pemanasan global.

Pemanasan bumi berdampak pula pada terumbu karang di beberapa kawasan, misalnya Pasifik Barat. Dengan naiknya suhu air laut hingga 4 derajat, diperkirakan 89% terumbu karang di wilayah itu akan mati. Efek langsungnya adalah pada menurunnya pemasukan di sektor pariwisata maupun perikanan.

Dampak pemanasan bumi merupakan tantangan nyata yang dihadapi oleh semua negara terutama negara pulau dan negara kepulauan. Untuk mengatasi hal ini, pada tanggal 21-22 November 2017 tahun 2017, Indonesia mengambil inisiatif untuk memimpin pembentukan forum kerja sama konkret yang lebih erat antar negara-negara kepulauan dan negara pulau di seluruh dunia. Forum tersebut adalah Forum Negara Kepulauan dan Negara Pulau (AIS).

Biro Informasi dan Hukum

Kemenko Bidang Kemaritiman

Prestasi Indonesia di Urutan ke- 4 Asian Games 2018, Menpora: Torehan Terbaik Yang Akan Menjadi Catatan Sejarah Yang Abadi

Prestasi Indonesia di Urutan ke- 4 Asian Games 2018, Menpora: Torehan Terbaik Yang Akan Menjadi Catatan Sejarah Yang Abadi

Jakarta, 3 September 2018 – Asian Games 2018 telah berakhir kemarin, tak hanya sukses dari sisi penyelenggaraan, sukses besar prestasi olahraga juga telah dibuktikan Indonesia dengan berada pada posisi ke-4 terbaik di antara 45 negara peserta pesta olahraga terbesar bangsa-bangsa di Asia. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sekali lagi mengapresiasi pencapaian prestasi tertinggi yang dicapai pahlawan olahraga Indonesia sepanjang sejarah Asian Games ini dalam acara Forum Merdeka Barat 9, bertema, “Atlet Kita, Prestasi Bangsa”, yang digelar di Auditorium Wisma Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama sejumlah peraih medali bagi Tim Indonesia, Senin Pagi (3/9).

“Asian Games 2018 telah menjadi menjadi sejarah baru pencapaian tertinggi prestasi olahraga Indonesia selama keikutsertaan Indonesia di Asian Games, dengan raihan total 98 medali, yang terdiri dari 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu,” ujar Menpora yang menjelaskan bahwa catatan terbaik prestasi Indonesia sebelumnya di ajang Asian Games terjadi 56 tahun lalu pada saat Asian Games tahun 1962 dengan raihan 51 medali dengan 11 medali emas.

“Mari kita beri penghargaan setinggi-tingginya dan sehormat-hormatnya atas perjuangan pahlawan olahraga yang berjuang menegakkan kehormatan kita di mata dunia lewat prestasi olahraga” ajaknya kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mengapresiasi perjuangan atlet di Asian Games 2018 kali ini.

Sebelumnya Menpora dalam berbagai kesempatan telah meminta para atlet untuk bertarung habis-habisan demi bangsa dan negara, “Kepada seluruh pahlawan olahraga Indonesia yang berlaga di Asian Games 2018, ingatlah sejarah hanya mengabadikan nama para juara. Maka bertarunglah, menanglah dan jadikan namamu abadi, Ayo Indonesia, Indonesia Juara,” ucapnya saat mengawali Asian Games dua pekan lalu.

Dengan capaian ini, Indonesia melampaui target minimal 16 medali emas yang dicanangkan pemerintah sejak awal untuk bisa berada di peringkat 10 besar Asian Games 2018. Sebanyak 9 dari 31 emas yang berhasil diraih Indonesia, berasal dari cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade (Olympic Sports), dan 22 emas dari cabang Non-Olympic Sports.

Sementara dari Pencak Silat, Indonesia meraih 14 dari 16 medali emas yang diperebutkan. Ke depan Indonesia akan memastikan Pencak Silat untuk dapat dipertandingkan di Oimpiade, ”Pemerintah akan memperjuangkan agar Pencak Silat menjadi cabang eksebisi pada Olimpiade 2020 Tokyo dan untuk selanjutnya bisa dipertandingkan secara reguler,” jelas Imam Nahrawi.

Pencapaian Prestasi Tim Indonesia di Asian Games 2018

Sejumlah pencapaian penting dicatatkan oleh Tim Indonesia sepanjang pertandingan di Asian Games 2018, diantaranya Indonesia menciptakan All Indonesian-Final (Pertandingan Final sesama Indonesia) pada nomor pertandingan Panjat Tebing Nomor Speed Relay Putri dan Speed Relay Putra dan Bulutangkis Nomor Ganda Putra.

Indonesia juga mengakhiri puasa emas pada sejumlah cabang-cabang Olympic Sports seperti pada cabang Tenis, Karate dan Angkat Besi. Pada cabang olahraga Non-Olympic Sports, Sepak Takraw juga mengakhiri puasa emas dengan raihan emas pertama sepanjang gelaran Asian Games.

“Jangan pernah sekalipun mengecilkan perjuangan atlet Indonesia, apakah mereka bertanding di cabang yang dipertandingkan di Olimpiade (Olympic Sports) atau tidak dipertandingkan di Olimpiade, semua atlet menjalani proses menempa diri untuk menjadi yang terbaik dengan latihan dan kedisiplinan yang tidak ada bedanya,’’ ucap Menpora lagi.

Bonus Asian Games 2018 Cair

Terkait pemberian bonus bagi peraih medali sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo yang ingin bonus segera diberikan sebelum keringat atlet mengering. Bonus bagi atlet peraih medali telah diberikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo, Minggu Pagi (2/9) di Istana Negara sebelum acara penutupan Asian Games 2018 kemarin. Bonus diberikan baik bagi atlet peraih medali (emas, perak dan perunggu), maupun atlet yang tidak meraih medali. Bonus juga diberikan kepada pelatih serta asisten pelatih.

Menpora Imam Nahrawi menjelaskan pemberian bonus ini, diberikan dengan rincian, sebagai berikut: Peraih Emas perorangan mendapatkan 1, 5 Miliar Rupiah, Peraih Medali Emas untuk Pasangan/Ganda sebesar 1 Miliar Rupiah per-orang, dan Emas beregu 750 juta Rupiah per-orang. Peraih perak perorangan mendapatkan 500 juta Rupiah, Perak untuk Ganda sebesar 400 juta Rupiah per orang, dan perak beregu 300 juta Rupiah per orang. Untuk peraih perunggu perorangan mendapatkan 250 juta Rupiah, Perunggu Ganda 200 juta Rupiah per orang, dan peraih perunggu beregu sebesar 150 juta Rupiah per orang.

Pemerintah juga akan memberikan bonus kepada pelatih dan asisten pelatih, dimana para pelatih perorangan/ganda mendapatkan 450 juta Rupiah untuk emas, 150 juta Rupiah untuk perak, dan 75 juta Rupiah untuk perunggu. Para pelatih beregu mendapatkan 600 juta Rupiah untuk emas, 200 juta Rupiah untuk perak, 100 juta Rupiah untuk perunggu. Setiap medali kedua dan seterusnya, para pelatih mendapatkan 225 juta Rupiah untuk emas, 75 juta Rupiah untuk perak, dan 37,5 juta Rupiah untuk perunggu. Untuk asisten pelatih perorangan/ganda mendapatkan 300 juta untuk emas, 100 juta untuk perak, dan 50 juta untuk perunggu.

Para asisten pelatih beregu mendapatkan 375 juta Rupiah untuk emas, 125 juta Rupiah untuk perak, dan 62,5 juta Rupiah untuk perunggu. Setiap medali kedua dan seterusnya, para asisten pelatih mendapatkan 150 juta Rupiah untuk emas, 50 juta Rupiah untuk perak, dan 25 juta Rupiah untuk perunggu. Imam Nahrawi menjelaskan bahwa seluruh bonus telah dikirim langsung ke rekening masing-masing dengan nominal yang diterima berupa bonus bersih tanpa potongan pajak. Selain berbentuk uang, bonus yang diberikan pemerintah kepada atlet juga berupa pengangkatan status sebagai Pegawai Negeri Sipil dan bonus rumah bagi setiap peraih medali.

Momentum Kebangkitan Olahraga Nasional Menuju Olimpiade 2020

Dengan total 31 medali emas, menjadikan Indonesia sebagai negara Asia Tenggara terbaik sepanjang sejarah Asian Games yang memperoleh pencapaian sebanyak 31 medali. Sebelumnya, tidak pernah ada negara di kawasan Asia Tenggara yang mampu meraih 31 emas di ajang Asian Games. Imam menegaskan, bahwa seluruh pencapaian tersebut tentu merupakan hal yang membanggakan. Namun, perjuangan tidak akan berhenti sampai di sini mengingat masih ada Olimpiade Tokyo 2020.

Pelatnas jangka panjang akan berjalan setelah Asian Games 2018. Ia yakin, dengan modal positif dalam Asian Games 2018 ini, Indonesia kini menatap Tokyo 2020 dengan penuh optimisme, karena Indonesia berhasil mendapatkan emas dalam beberapa cabang olahraga Olimpiade, seperti angkat besi, tenis, bulutangkis, panjat tebing, dayung hingga karate.

“Setelah Asian Games 2018 ini kita akan melakukan evaluasi agar hasilnya lebih maksimal di Olimpiade 2020. Fokus setelah Asian Games ini adalah memperbaiki performa atlet-atlet kita yang akan dipersiapkan untuk cabang-cabang olahraga yang akan dipertandingkan di Olimpiade Tokyo tahun 2020, serta penyusunan Peta Jalan (Road Map) Pembangunan Keolahragaan Nasional menuju prestasi olahraga Indonesia Hebat 2030.

“Ini adalah momentum kebangkitan prestasi olahraga Indonesia. Hari ini pahlawan olahraga kita telah tunaikan janji dan sumpah mereka atas perjuangan untuk ibu pertiwi. Telah mereka abadikan nama mereka sebagai juara dan pemenang yang akan dikenang selamanya. Terima kasih Pahlawan Olahraga Indonesia, untuk semua energi dan perjuangan yang menyatukan bangsa ini dan membuat kami semua bangga menjadi Indonesia,” ucapnya dengan penuh rasa bangga dan haru.

#IndonesiaJuara

Biro Humas dan Hukum Kemenpora dan Tim Komunikasi Pemerintah Kemenkominfo

 

 

Hari Santri 2018: “Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media”

Hari Santri 2018: “Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media”

Jakarta (Kemenag) – Menag Lukman Hakim Saifuddin mengajak segenap kaum santri di Tanah Air  memanfaatkan sosial media untuk menebarkan kedamaian kepada siapapun dan di manapun. Menurut Menag, santri dalam pengertian luas adalah mereka-mereka umat Muslim yang memiliki basis pengetahuan memadai dan memiliki cara berfikir terbuka dan menebarkan ajaran Islam dalam mewujudkan kedamaian di tengah-tengah kehidupan.

“Yang kita launching hari ini bukanlah hari santri melainkan rangkaian kegiatan Hari Santri dalam rangka memperingati hari santri yang jatuh pada 22 Oktober mendatang,” kata Menag Lukman Hakim didampingi Dirjen Pendis dan Direktur Pendididkan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ahmad Zayadi serta sejumlah pejabat eselon I dan II di lingkungan Kemenag.

Menurut Menag, peringatan hari santri dapat dimaknai secara khusus dimana santri tidak hanya mereka yang lulusan pondok pesantren, tetapi adalah mereka umat Islam yang memiliki basis keilmuan memadai dan memiliki daya pikir terbuka serta menyebarkan agama Islam dalam rangka mendamaikan dan menjadi rahmatan lil alamin.

“Ciri dari santri yang paling utama adalah mereka yang cinta tanah air dengan berlandaskan agama. Santri memiliki sejarah resolusi jihad, tidak semata hanya membela kepentingan pesantren atau kaum santri tapi lebih luas dari itu adalah cintanya kepada tanah air, ” ujar Menag.

“Sering kali muncul di ranah sosial media hal-hal yang berpotensi memecah belah kita. Santri harus terpanggil memanfaatkan sosial media untuk senantiasa menebarkan kedamaian kepada siapapun, di manapun dan kapanpun,” ujar Menag Lukman Hakim saat launching rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional 2018 di Kantor Kemenag, Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta.

Tampil berpeci hitam dan kemeja putih dengan bawahan sarung khas batik, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berkesempatan berbagi cerita dengan pengelola media sosial (medsos) pondok pesantren bagaimana bermedsos.  “Bersosial media harus tenang. Jangan mudah terbawa emosi,” kata Menag Lukman saat berdialog di acara Kopdar Akbar bersama Santrinet Nusantara sebagai rangkaian acara Hari Santri Nasional tahun 2018.

Disampaikan Menag Lukman, dirinya sangat menikmati dalam bersosial media, karena ada beberapa kepentingan. Menurutnya, ada tiga kepentingan dirinya bermedsos.  “Saya menikmati bersosial media, karena saya punya kepentingan, setidaknya pada tiga hal,” kata Menag.

Kepentingan pertama adalah ingin mendapatkan ilmu, ingin mendapatkan informasi. “Itu penting, karena pada sosial media bisa menjadikan banyak tahu hal,” ujarnya. Kepentingan kedua adalah untuk untuk menebarkan pikiran-pikiran. Bahkan, lebih jauh lagi, ujarnya, sosial media dapat menjadi tempat untuk mengartikulasikan pikiran. Sementara kepentingan bermedia sosial yang ketiga adalah untuk hiburan.

Dirjen Pendis Kamaruddin Amin dalam kesempatan sama mengatakan, pondok pesantren yang dihuni ratusan bahkan ribuan santri di dalamnya menjadi satu komunitas yang tidak dapat dipandang sebelah mata.  “Refleksi santri terkait moderasi beragama saja tidak cukup, tapi interaksi personal harus moderat, tentu harus sejalan dengan ilmu pengetahuan seseorang,” kata Kamaruddin Amin.

Dijelaskan Kamaruddin, seorang santri itu tidak hanya menguasai kitab (ilmu) kuning, akan tetapi juga harus menguasai ilmu putih yakni ilmu-ilmu lainnya seperti penguasaan teknologi utamanya dalam bersosial media dalam menebarkan moderasi beragama.  “Kita harus mengetahui batasan moderasi beragama itu,” kata Kamaruddin.

Hari Santri 2018 dengan mengusung tema Bersama Santri Damailah Negeri.  Malam puncak Hari Santri 2018 pada 21 Oktober 2018 rencananya akan dihadiri Presiden Joko Widodo di Lapangan Gasibu, Bandung.

Acara ini akan diisi renungan Hari Santri 2018 bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, tausiyah kebangsaan oleh Habib Jindan bin Novel bin Jindan, penampilan Sabyan Gambus dan orkestra santri di Bandung, Jawa Barat.

 

#HariSantri2018

Biro Humas, Data dan Informasi Kemenag bersama Tim Komunikasi Pemerintah Kemkominfo

 

 

Bersama Bangun Lombok, Presiden Jokowi Teken Inpres Penanganan Gempa Secara Terpadu

Bersama Bangun Lombok, Presiden Jokowi Teken Inpres Penanganan Gempa Secara Terpadu

Dalam rangka percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di kabupaten/kota dan wilayah terdampak bencana, pada 23 Agustus 2018, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Intruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2018 tentang Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Gempa Bumi di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Kota Mataram, dan wilayah terdampak di Provinsi NTB.

Melalui Inpres tersebut, Presiden Jokowi menginstruksikan kepada 19 menteri Kabinet Kerja, Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung, Kepala BNPB, Kepala BPKP, Kepala LKPP, Gubernur NTB, Bupati Lombok Barat, Bupati Lombok Utara, Bupati Lombok Tengah, Bupati Lombok Timur, dan Wali Kota Mataram, untuk melaksanakan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa bumi di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Kota Mataram, dan wilayah terdampak di Provinsi NTB, yang mengakibatkan korban jiwa, pengungsian, kerusakan, dan kerugian di beberapa sektor.

Ke-19 menteri yang mendapat instruksi itu adalah: 1. Menko Polhukam; 2. Menko PMK; 3. Menko Perekonomian; 4. Menko Kemaritiman; 5. Menteri PUPR; 6. Mendagri; 7. Menteri Agama; 8. Mendikbud; 9. Menteri Kesehatan; 10. Menteri Sosial; 11. Menteri ESDM; 12. Menkominfo; 13. Menteri LHK; 14. Menteri Pertanian; 15. Menteri BUMN; 16. Menkop dan UKM; 17. Menteri Perdagangan; 18. Menteri Keuangan; dan 19. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN.

Kegiatan rehabilitasi, menurut Inpres ini, dilakukan melalui: 1. Perbaikan lingkungan bencana; 2. Perbaikan prasarana dan sarana umum; 3. Pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat; 4. Pemulihan sosial psikologis; 5. Pelayanan kesehatan; 6. Pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya; 7. Pemulihan keamanan dan ketertiban; 8. Pemulihan fungsi pemerintahan; dan 9. Pemulihan fungsi pelayanan publik.

Sedangkan rekonstruksi terdiri atas: 1. Pembangunan kembali prasarana dan sarana; 2. Pembangunan kembali sarana sosial masyarakat; 3. Pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat; 4. Penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan bencana; 5. Partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat; 6. Peningkatan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya; 7 peningkatan fungsi pelayanan publik; dan 8. Peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat.

“Rehabilitasi dan rekonstruksi sarana berupa fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas agama, dan fasilitas penunjang perekonomian agar aktivitas bisa berfungsi kembali diselesaikan paling lambat pada akhir bulan Desember 2018, dan sarana lain diselesaikan paling lambat Desember 2019,” tegas Inpres tersebut.

Menteri Koordinator

Khusus kepada Menko Polhukam, Presiden menginstruksikan untuk memfasilitasi pengoordinasian kementerian/lembaga dalam menjaga stabilitas politik, hukum, dan keamanan di kabupaten/kota dan wilayah terdampak bencana. Sedangkan kepada Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Presiden menginstruksikan untuk memfasilitasi pengoordinasian percepatan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa bumi.

Untuk Menko Perekonomian, Presiden menginstruksikan untuk memfasilitasi pengoordinasian kementerian/lembaga dalam penyelesaian permasalahan mengenai perekonomian yang terkendala akibat bencana. Dan untuk Menko Kemaritiman, Presiden menginstruksikan untuk memfasilitasi pengoordinasian kementerian/lembaga dalam pemberian dukungan percepatan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa bumi melalui pengelolaan sumber daya maritim.

Presiden menegaskan, selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung, pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota tetap melaksanakan pelayanan kebutuhan masyarakat, berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Presiden menegaskan kepada para pejabat di atas, untuk melaksanakan Instruksi Presiden ini dengan penuh tanggung jawab. “Instruksi Presiden ini mulai berlaku pada tanggal dikeluarkan,” bunyi diktum KEENAM Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2018, yang dikeluarkan di Jakarta, 23 Agustus 2018. Sebelumnya, Senin (20/8), Presiden telah menyampaikan komitmen Pemerintah untuk memberikan perhatian khusus terkait penanganan gempa Lombok. “Yang paling penting adalah penanganan langsung di lapangan, bahwa Pemerintah Pusat total memberikan dukungan penuh, bantuan penuh, baik kepada Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, dan tentu saja yang paling penting adalah kepada masyarakat,” tutur Presiden Jokowi saat itu.

Senada dengan Presiden, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kamis (23/8), juga menyampaikan bahwa bukti keseriusan pemerintah pusat yakni hadirnya Wakil Presiden mengunjungi korban gempa pada Selasa (21/8), sebelumnya minggu lalu Presiden juga telah meninjau di lapangan. Artinya, tegas Seskab, pemerintah pusat begitu menaruh harapan besar. “Ini upaya yang dilakukan pemerintah ini semata-semata untuk tujuan kebaikan bagi masyarakat yang ada di Lombok, di Sumbawa, di Nusa Tenggara Barat tapi juga di keseluruhan,” terang Seskab. Untuk itu, Seskab menegaskan perlunya persatuan dalam menangani gempa sebagaimana bangsa lain. “Kita belajar dari bangsa-bangsa lain, seperti di Jepang, itu seharusnya kita bersatu untuk menangani itu bukan malah kemudian menginformasikan hal yang bukan yang sebenarnya,” tutur Seskab.

#BersamaBangunLombok

 

Kepala Bidang Pengelolaan Informasi, 
Edi Nurhadiyanto

 

Twitter: @setkabgoid

Fb: @Setkab RI

Ig: sekretariat.kabinet

Youtube: Sekretariat Kabinet

Website: www.setkab.go.id