Prestasi Indonesia di Urutan ke- 4 Asian Games 2018, Menpora: Torehan Terbaik Yang Akan Menjadi Catatan Sejarah Yang Abadi

Prestasi Indonesia di Urutan ke- 4 Asian Games 2018, Menpora: Torehan Terbaik Yang Akan Menjadi Catatan Sejarah Yang Abadi

Prestasi Indonesia di Urutan ke- 4 Asian Games 2018, Menpora: Torehan Terbaik Yang Akan Menjadi Catatan Sejarah Yang Abadi

Jakarta, 3 September 2018 – Asian Games 2018 telah berakhir kemarin, tak hanya sukses dari sisi penyelenggaraan, sukses besar prestasi olahraga juga telah dibuktikan Indonesia dengan berada pada posisi ke-4 terbaik di antara 45 negara peserta pesta olahraga terbesar bangsa-bangsa di Asia. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sekali lagi mengapresiasi pencapaian prestasi tertinggi yang dicapai pahlawan olahraga Indonesia sepanjang sejarah Asian Games ini dalam acara Forum Merdeka Barat 9, bertema, “Atlet Kita, Prestasi Bangsa”, yang digelar di Auditorium Wisma Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama sejumlah peraih medali bagi Tim Indonesia, Senin Pagi (3/9).

“Asian Games 2018 telah menjadi menjadi sejarah baru pencapaian tertinggi prestasi olahraga Indonesia selama keikutsertaan Indonesia di Asian Games, dengan raihan total 98 medali, yang terdiri dari 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu,” ujar Menpora yang menjelaskan bahwa catatan terbaik prestasi Indonesia sebelumnya di ajang Asian Games terjadi 56 tahun lalu pada saat Asian Games tahun 1962 dengan raihan 51 medali dengan 11 medali emas.

“Mari kita beri penghargaan setinggi-tingginya dan sehormat-hormatnya atas perjuangan pahlawan olahraga yang berjuang menegakkan kehormatan kita di mata dunia lewat prestasi olahraga” ajaknya kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mengapresiasi perjuangan atlet di Asian Games 2018 kali ini.

Sebelumnya Menpora dalam berbagai kesempatan telah meminta para atlet untuk bertarung habis-habisan demi bangsa dan negara, “Kepada seluruh pahlawan olahraga Indonesia yang berlaga di Asian Games 2018, ingatlah sejarah hanya mengabadikan nama para juara. Maka bertarunglah, menanglah dan jadikan namamu abadi, Ayo Indonesia, Indonesia Juara,” ucapnya saat mengawali Asian Games dua pekan lalu.

Dengan capaian ini, Indonesia melampaui target minimal 16 medali emas yang dicanangkan pemerintah sejak awal untuk bisa berada di peringkat 10 besar Asian Games 2018. Sebanyak 9 dari 31 emas yang berhasil diraih Indonesia, berasal dari cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade (Olympic Sports), dan 22 emas dari cabang Non-Olympic Sports.

Sementara dari Pencak Silat, Indonesia meraih 14 dari 16 medali emas yang diperebutkan. Ke depan Indonesia akan memastikan Pencak Silat untuk dapat dipertandingkan di Oimpiade, ”Pemerintah akan memperjuangkan agar Pencak Silat menjadi cabang eksebisi pada Olimpiade 2020 Tokyo dan untuk selanjutnya bisa dipertandingkan secara reguler,” jelas Imam Nahrawi.

Pencapaian Prestasi Tim Indonesia di Asian Games 2018

Sejumlah pencapaian penting dicatatkan oleh Tim Indonesia sepanjang pertandingan di Asian Games 2018, diantaranya Indonesia menciptakan All Indonesian-Final (Pertandingan Final sesama Indonesia) pada nomor pertandingan Panjat Tebing Nomor Speed Relay Putri dan Speed Relay Putra dan Bulutangkis Nomor Ganda Putra.

Indonesia juga mengakhiri puasa emas pada sejumlah cabang-cabang Olympic Sports seperti pada cabang Tenis, Karate dan Angkat Besi. Pada cabang olahraga Non-Olympic Sports, Sepak Takraw juga mengakhiri puasa emas dengan raihan emas pertama sepanjang gelaran Asian Games.

“Jangan pernah sekalipun mengecilkan perjuangan atlet Indonesia, apakah mereka bertanding di cabang yang dipertandingkan di Olimpiade (Olympic Sports) atau tidak dipertandingkan di Olimpiade, semua atlet menjalani proses menempa diri untuk menjadi yang terbaik dengan latihan dan kedisiplinan yang tidak ada bedanya,’’ ucap Menpora lagi.

Bonus Asian Games 2018 Cair

Terkait pemberian bonus bagi peraih medali sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo yang ingin bonus segera diberikan sebelum keringat atlet mengering. Bonus bagi atlet peraih medali telah diberikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo, Minggu Pagi (2/9) di Istana Negara sebelum acara penutupan Asian Games 2018 kemarin. Bonus diberikan baik bagi atlet peraih medali (emas, perak dan perunggu), maupun atlet yang tidak meraih medali. Bonus juga diberikan kepada pelatih serta asisten pelatih.

Menpora Imam Nahrawi menjelaskan pemberian bonus ini, diberikan dengan rincian, sebagai berikut: Peraih Emas perorangan mendapatkan 1, 5 Miliar Rupiah, Peraih Medali Emas untuk Pasangan/Ganda sebesar 1 Miliar Rupiah per-orang, dan Emas beregu 750 juta Rupiah per-orang. Peraih perak perorangan mendapatkan 500 juta Rupiah, Perak untuk Ganda sebesar 400 juta Rupiah per orang, dan perak beregu 300 juta Rupiah per orang. Untuk peraih perunggu perorangan mendapatkan 250 juta Rupiah, Perunggu Ganda 200 juta Rupiah per orang, dan peraih perunggu beregu sebesar 150 juta Rupiah per orang.

Pemerintah juga akan memberikan bonus kepada pelatih dan asisten pelatih, dimana para pelatih perorangan/ganda mendapatkan 450 juta Rupiah untuk emas, 150 juta Rupiah untuk perak, dan 75 juta Rupiah untuk perunggu. Para pelatih beregu mendapatkan 600 juta Rupiah untuk emas, 200 juta Rupiah untuk perak, 100 juta Rupiah untuk perunggu. Setiap medali kedua dan seterusnya, para pelatih mendapatkan 225 juta Rupiah untuk emas, 75 juta Rupiah untuk perak, dan 37,5 juta Rupiah untuk perunggu. Untuk asisten pelatih perorangan/ganda mendapatkan 300 juta untuk emas, 100 juta untuk perak, dan 50 juta untuk perunggu.

Para asisten pelatih beregu mendapatkan 375 juta Rupiah untuk emas, 125 juta Rupiah untuk perak, dan 62,5 juta Rupiah untuk perunggu. Setiap medali kedua dan seterusnya, para asisten pelatih mendapatkan 150 juta Rupiah untuk emas, 50 juta Rupiah untuk perak, dan 25 juta Rupiah untuk perunggu. Imam Nahrawi menjelaskan bahwa seluruh bonus telah dikirim langsung ke rekening masing-masing dengan nominal yang diterima berupa bonus bersih tanpa potongan pajak. Selain berbentuk uang, bonus yang diberikan pemerintah kepada atlet juga berupa pengangkatan status sebagai Pegawai Negeri Sipil dan bonus rumah bagi setiap peraih medali.

Momentum Kebangkitan Olahraga Nasional Menuju Olimpiade 2020

Dengan total 31 medali emas, menjadikan Indonesia sebagai negara Asia Tenggara terbaik sepanjang sejarah Asian Games yang memperoleh pencapaian sebanyak 31 medali. Sebelumnya, tidak pernah ada negara di kawasan Asia Tenggara yang mampu meraih 31 emas di ajang Asian Games. Imam menegaskan, bahwa seluruh pencapaian tersebut tentu merupakan hal yang membanggakan. Namun, perjuangan tidak akan berhenti sampai di sini mengingat masih ada Olimpiade Tokyo 2020.

Pelatnas jangka panjang akan berjalan setelah Asian Games 2018. Ia yakin, dengan modal positif dalam Asian Games 2018 ini, Indonesia kini menatap Tokyo 2020 dengan penuh optimisme, karena Indonesia berhasil mendapatkan emas dalam beberapa cabang olahraga Olimpiade, seperti angkat besi, tenis, bulutangkis, panjat tebing, dayung hingga karate.

“Setelah Asian Games 2018 ini kita akan melakukan evaluasi agar hasilnya lebih maksimal di Olimpiade 2020. Fokus setelah Asian Games ini adalah memperbaiki performa atlet-atlet kita yang akan dipersiapkan untuk cabang-cabang olahraga yang akan dipertandingkan di Olimpiade Tokyo tahun 2020, serta penyusunan Peta Jalan (Road Map) Pembangunan Keolahragaan Nasional menuju prestasi olahraga Indonesia Hebat 2030.

“Ini adalah momentum kebangkitan prestasi olahraga Indonesia. Hari ini pahlawan olahraga kita telah tunaikan janji dan sumpah mereka atas perjuangan untuk ibu pertiwi. Telah mereka abadikan nama mereka sebagai juara dan pemenang yang akan dikenang selamanya. Terima kasih Pahlawan Olahraga Indonesia, untuk semua energi dan perjuangan yang menyatukan bangsa ini dan membuat kami semua bangga menjadi Indonesia,” ucapnya dengan penuh rasa bangga dan haru.

#IndonesiaJuara

Biro Humas dan Hukum Kemenpora dan Tim Komunikasi Pemerintah Kemenkominfo

 

 

Hari Santri 2018: “Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media”

Hari Santri 2018: “Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media”

Hari Santri 2018: “Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media”

Jakarta (Kemenag) – Menag Lukman Hakim Saifuddin mengajak segenap kaum santri di Tanah Air  memanfaatkan sosial media untuk menebarkan kedamaian kepada siapapun dan di manapun. Menurut Menag, santri dalam pengertian luas adalah mereka-mereka umat Muslim yang memiliki basis pengetahuan memadai dan memiliki cara berfikir terbuka dan menebarkan ajaran Islam dalam mewujudkan kedamaian di tengah-tengah kehidupan.

“Yang kita launching hari ini bukanlah hari santri melainkan rangkaian kegiatan Hari Santri dalam rangka memperingati hari santri yang jatuh pada 22 Oktober mendatang,” kata Menag Lukman Hakim didampingi Dirjen Pendis dan Direktur Pendididkan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ahmad Zayadi serta sejumlah pejabat eselon I dan II di lingkungan Kemenag.

Menurut Menag, peringatan hari santri dapat dimaknai secara khusus dimana santri tidak hanya mereka yang lulusan pondok pesantren, tetapi adalah mereka umat Islam yang memiliki basis keilmuan memadai dan memiliki daya pikir terbuka serta menyebarkan agama Islam dalam rangka mendamaikan dan menjadi rahmatan lil alamin.

“Ciri dari santri yang paling utama adalah mereka yang cinta tanah air dengan berlandaskan agama. Santri memiliki sejarah resolusi jihad, tidak semata hanya membela kepentingan pesantren atau kaum santri tapi lebih luas dari itu adalah cintanya kepada tanah air, ” ujar Menag.

“Sering kali muncul di ranah sosial media hal-hal yang berpotensi memecah belah kita. Santri harus terpanggil memanfaatkan sosial media untuk senantiasa menebarkan kedamaian kepada siapapun, di manapun dan kapanpun,” ujar Menag Lukman Hakim saat launching rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional 2018 di Kantor Kemenag, Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta.

Tampil berpeci hitam dan kemeja putih dengan bawahan sarung khas batik, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berkesempatan berbagi cerita dengan pengelola media sosial (medsos) pondok pesantren bagaimana bermedsos.  “Bersosial media harus tenang. Jangan mudah terbawa emosi,” kata Menag Lukman saat berdialog di acara Kopdar Akbar bersama Santrinet Nusantara sebagai rangkaian acara Hari Santri Nasional tahun 2018.

Disampaikan Menag Lukman, dirinya sangat menikmati dalam bersosial media, karena ada beberapa kepentingan. Menurutnya, ada tiga kepentingan dirinya bermedsos.  “Saya menikmati bersosial media, karena saya punya kepentingan, setidaknya pada tiga hal,” kata Menag.

Kepentingan pertama adalah ingin mendapatkan ilmu, ingin mendapatkan informasi. “Itu penting, karena pada sosial media bisa menjadikan banyak tahu hal,” ujarnya. Kepentingan kedua adalah untuk untuk menebarkan pikiran-pikiran. Bahkan, lebih jauh lagi, ujarnya, sosial media dapat menjadi tempat untuk mengartikulasikan pikiran. Sementara kepentingan bermedia sosial yang ketiga adalah untuk hiburan.

Dirjen Pendis Kamaruddin Amin dalam kesempatan sama mengatakan, pondok pesantren yang dihuni ratusan bahkan ribuan santri di dalamnya menjadi satu komunitas yang tidak dapat dipandang sebelah mata.  “Refleksi santri terkait moderasi beragama saja tidak cukup, tapi interaksi personal harus moderat, tentu harus sejalan dengan ilmu pengetahuan seseorang,” kata Kamaruddin Amin.

Dijelaskan Kamaruddin, seorang santri itu tidak hanya menguasai kitab (ilmu) kuning, akan tetapi juga harus menguasai ilmu putih yakni ilmu-ilmu lainnya seperti penguasaan teknologi utamanya dalam bersosial media dalam menebarkan moderasi beragama.  “Kita harus mengetahui batasan moderasi beragama itu,” kata Kamaruddin.

Hari Santri 2018 dengan mengusung tema Bersama Santri Damailah Negeri.  Malam puncak Hari Santri 2018 pada 21 Oktober 2018 rencananya akan dihadiri Presiden Joko Widodo di Lapangan Gasibu, Bandung.

Acara ini akan diisi renungan Hari Santri 2018 bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, tausiyah kebangsaan oleh Habib Jindan bin Novel bin Jindan, penampilan Sabyan Gambus dan orkestra santri di Bandung, Jawa Barat.

 

#HariSantri2018

Biro Humas, Data dan Informasi Kemenag bersama Tim Komunikasi Pemerintah Kemkominfo

 

 

Bersama Bangun Lombok, Presiden Jokowi Teken Inpres Penanganan Gempa Secara Terpadu

Bersama Bangun Lombok, Presiden Jokowi Teken Inpres Penanganan Gempa Secara Terpadu

Bersama Bangun Lombok, Presiden Jokowi Teken Inpres Penanganan Gempa Secara Terpadu

Dalam rangka percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di kabupaten/kota dan wilayah terdampak bencana, pada 23 Agustus 2018, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Intruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2018 tentang Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Gempa Bumi di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Kota Mataram, dan wilayah terdampak di Provinsi NTB.

Melalui Inpres tersebut, Presiden Jokowi menginstruksikan kepada 19 menteri Kabinet Kerja, Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung, Kepala BNPB, Kepala BPKP, Kepala LKPP, Gubernur NTB, Bupati Lombok Barat, Bupati Lombok Utara, Bupati Lombok Tengah, Bupati Lombok Timur, dan Wali Kota Mataram, untuk melaksanakan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa bumi di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Kota Mataram, dan wilayah terdampak di Provinsi NTB, yang mengakibatkan korban jiwa, pengungsian, kerusakan, dan kerugian di beberapa sektor.

Ke-19 menteri yang mendapat instruksi itu adalah: 1. Menko Polhukam; 2. Menko PMK; 3. Menko Perekonomian; 4. Menko Kemaritiman; 5. Menteri PUPR; 6. Mendagri; 7. Menteri Agama; 8. Mendikbud; 9. Menteri Kesehatan; 10. Menteri Sosial; 11. Menteri ESDM; 12. Menkominfo; 13. Menteri LHK; 14. Menteri Pertanian; 15. Menteri BUMN; 16. Menkop dan UKM; 17. Menteri Perdagangan; 18. Menteri Keuangan; dan 19. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN.

Kegiatan rehabilitasi, menurut Inpres ini, dilakukan melalui: 1. Perbaikan lingkungan bencana; 2. Perbaikan prasarana dan sarana umum; 3. Pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat; 4. Pemulihan sosial psikologis; 5. Pelayanan kesehatan; 6. Pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya; 7. Pemulihan keamanan dan ketertiban; 8. Pemulihan fungsi pemerintahan; dan 9. Pemulihan fungsi pelayanan publik.

Sedangkan rekonstruksi terdiri atas: 1. Pembangunan kembali prasarana dan sarana; 2. Pembangunan kembali sarana sosial masyarakat; 3. Pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat; 4. Penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan bencana; 5. Partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat; 6. Peningkatan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya; 7 peningkatan fungsi pelayanan publik; dan 8. Peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat.

“Rehabilitasi dan rekonstruksi sarana berupa fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas agama, dan fasilitas penunjang perekonomian agar aktivitas bisa berfungsi kembali diselesaikan paling lambat pada akhir bulan Desember 2018, dan sarana lain diselesaikan paling lambat Desember 2019,” tegas Inpres tersebut.

Menteri Koordinator

Khusus kepada Menko Polhukam, Presiden menginstruksikan untuk memfasilitasi pengoordinasian kementerian/lembaga dalam menjaga stabilitas politik, hukum, dan keamanan di kabupaten/kota dan wilayah terdampak bencana. Sedangkan kepada Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Presiden menginstruksikan untuk memfasilitasi pengoordinasian percepatan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa bumi.

Untuk Menko Perekonomian, Presiden menginstruksikan untuk memfasilitasi pengoordinasian kementerian/lembaga dalam penyelesaian permasalahan mengenai perekonomian yang terkendala akibat bencana. Dan untuk Menko Kemaritiman, Presiden menginstruksikan untuk memfasilitasi pengoordinasian kementerian/lembaga dalam pemberian dukungan percepatan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa bumi melalui pengelolaan sumber daya maritim.

Presiden menegaskan, selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung, pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota tetap melaksanakan pelayanan kebutuhan masyarakat, berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Presiden menegaskan kepada para pejabat di atas, untuk melaksanakan Instruksi Presiden ini dengan penuh tanggung jawab. “Instruksi Presiden ini mulai berlaku pada tanggal dikeluarkan,” bunyi diktum KEENAM Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2018, yang dikeluarkan di Jakarta, 23 Agustus 2018. Sebelumnya, Senin (20/8), Presiden telah menyampaikan komitmen Pemerintah untuk memberikan perhatian khusus terkait penanganan gempa Lombok. “Yang paling penting adalah penanganan langsung di lapangan, bahwa Pemerintah Pusat total memberikan dukungan penuh, bantuan penuh, baik kepada Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, dan tentu saja yang paling penting adalah kepada masyarakat,” tutur Presiden Jokowi saat itu.

Senada dengan Presiden, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kamis (23/8), juga menyampaikan bahwa bukti keseriusan pemerintah pusat yakni hadirnya Wakil Presiden mengunjungi korban gempa pada Selasa (21/8), sebelumnya minggu lalu Presiden juga telah meninjau di lapangan. Artinya, tegas Seskab, pemerintah pusat begitu menaruh harapan besar. “Ini upaya yang dilakukan pemerintah ini semata-semata untuk tujuan kebaikan bagi masyarakat yang ada di Lombok, di Sumbawa, di Nusa Tenggara Barat tapi juga di keseluruhan,” terang Seskab. Untuk itu, Seskab menegaskan perlunya persatuan dalam menangani gempa sebagaimana bangsa lain. “Kita belajar dari bangsa-bangsa lain, seperti di Jepang, itu seharusnya kita bersatu untuk menangani itu bukan malah kemudian menginformasikan hal yang bukan yang sebenarnya,” tutur Seskab.

#BersamaBangunLombok

 

Kepala Bidang Pengelolaan Informasi, 
Edi Nurhadiyanto

 

Twitter: @setkabgoid

Fb: @Setkab RI

Ig: sekretariat.kabinet

Youtube: Sekretariat Kabinet

Website: www.setkab.go.id

 

 

Lima Belas Pesan Menjelang Armina

Lima Belas Pesan Menjelang Armina

Lima Belas Pesan Menjelang Armina

Dalam waktu sepekan mendatang, jemaah haji akan melaksanakan wukuf di Arafah. Jemaah haji perlu mempersiapkan diri untuk melaksanakan tahapan di Arafah, Muzdalifah, dan juga Mina (Armina) yang menjadi puncak ibadah haji bersama jutaan jemaah dari seluruh dunia.

“Bagi jemaah dengan risiko tinggi (risti) seperti penderita penyakit jantung, disarankan untuk membadalkan ibadah melempar jamarat. Hal ini untuk mengurangi perburukan pada jemaah itu sendiri,” jelas Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Jusuf Singka.

Mobilisasi jemaah Indonesia dari Makkah ke Arafah akan dimulai pada tanggal 8 Zulhijah atau 19 Agustus 2018. Untuk pelaksanaan mabit dari Arafah ke Muzdalifah yang dilaksanakan pada 9 Zulhijah mulai saat terbenam matahari hingga dini hari.

Setelah melempar jumrah Aqabah di Mina, jemaah kemudian melanjutkan pergerakan menggunakan bus ke Masjidil Haram di Makkah. Berlanjut di Masjidil Haram, jemaah akan melakukan Tawaf Ifadah dan sai. Ritual ibadah ini akan berlangsung pada 12-13 Zulhijjah atau tanggal 23-24 Agustus 2018 dari pukul 07.00-16.00 Waktu Arab Saudi.

Sebanyak 465 kloter yang membawa 190.505 jemaah Indonesia telah memasuki Makkah. Dari jumlah tersebut sebanyak 127.377 orang (66,86%) diantaranya adalah jemaah risti.

Menilik alur waktu ibadah yang padat, Eka kembali mengingatkan beberapa hal. Data di KKHI Makkah menyebutkan 1.155 orang telah dirujuk ke KKHI dengan total jemaah yang dirawat mencapai 479 orang. Sementara jemaah yang masih dirawat inap di KKHI berjumlah 167 orang dan di rawat di RSAS sebanyak 108 orang. Kelelahan menjadi pemicu utamanya.

“Kami ingin jemaah haji Indonesia bisa melaksanakan ibadah dengan baik. Insyaa Allah menjadi haji sehat haji mabrur dan kembali ke ke Tanah Air untuk bertemu keluarga,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, ia menitipkan 15 pesan kepada jemaah haji melalui Tim Preventif dan Promotif (TPP) serta Tenaga medis di masing-masing Kloter (TKHI).

Adapun pesan tersebut di antaranya:

  1. Makan teratur agar tubuh bertenaga dan tidak mudah sakit.
  2. Sering minum tidak menunggu haus. Saat Armina nanti suhu di Mekkah diperkirakan makin panas. Waspadai risiko kekurangan cairan dan heat stroke.
  3. Gunakan Alat Pelindung Diri (APD) saat keluar pondokan atau tenda termasuk saat antre di toilet di Armina.
  4. Kurangi aktivitas fisik yang tidak perlu. Simpan tenaga untuk menyelesaikan Armina.
  5. Kurangi aktivitas di luar tenda saat Armina.
  6. Bawa obat-obatan pribadi dan mengonsumsinya secara teratur sesuai anjuran dokter.Konsultasikan kesehatan ke petugas kesehatan terutama bagi jemaah berisiko tinggi sebelum berangkat Armina.
  1. Bawa dan konsumsi minuman oralit saat di Armina.
  2. Peduli serta saling menjaga antar jamaah minimal yang sekamar atau seregu. Berangkat bersama-sama dan pulang bersama-sama.
  3. Membawa pisau cukur sendiri dan tidak dipinjamkan atau meminjam milik orang lain.
  4. Ketika di area Armina nanti tidak naik ke atas bukit atau tebing atau bebatuan dan tidak berbaring di jalan atau dikolong kendaraan yang terparkir.
  5. Pilih rute melempar jamarat yang aman dan sudah direkomendasikan oleh petugas haji Indonesia yaitu rute yang melalui tenda-tenda jemaah Indonesia dan masuk melalui terowongan. Di jalur tersebut tersebar petugas dan pos kesehatan, sedangkan jalur lainnya tidak ada perlindungan petugas atau pos kesehatan sehingga berbahaya jika dilewati jemaah Indonesia.
  1. Tidak memaksakan diri melempar jamarat ketika kondisi kesehatan tidak memungkinkan.
  2. Melontar jamarat mengikuti waktu yang sudah ditentukan oleh pemerintah Arab Saudi. Untuk jemaah Indonesia waktu melontar yang disarankan untuk tanggal 10 Zulhijah yaitu setelah Ashar atau setelah maghrib dan pada tanggal 11 Zulhijah setelah Subuh. Jika melontar di waktu selain itu akan berisiko terpapar suhu yang sangat panas dan berdesakan dengan jemaah dari negara lain yang postur tubuhnya lebih besar dari jemaah Indonesia.
  3. Hati-hati jika menggunakan tangga berjalan atau eskalator di area jamarat karena curam. Angkat pakaian di atas mata kaki untuk menghindari terinjak atau terbelit di eskalator.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id.(gi/wul)

#HajiSehatMabrur

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes

drg. Widyawati, MKM

 

 

Asian Games 2018 Bergulir, Menpora: Bertarunglah, Menanglah dan Jadikan Namamu Abadi!

Asian Games 2018 Bergulir, Menpora: Bertarunglah, Menanglah dan Jadikan Namamu Abadi!

Asian Games 2018 Bergulir, Menpora: Bertarunglah, Menanglah dan Jadikan Namamu Abadi!

Sabtu, 18 Agustus 2018 – Hari yang dinanti-nanti telah tiba, Asian Games 2018 akan segera bergulir hingga 2 September 2018 mendatang. Beberapa saat sebelum Upacara Pembukaan Asian Games 2018, Menteri Pemuda dan Olahraga menyerukan kembali semangat untuk memotivasi atlet-atlet Indonesia, “Kepada seluruh pahlawan olahraga Indonesia yang berlaga di Asian Games 2018, ingatlah sejarah hanya mengabadikan nama para juara. Maka bertarunglah, menanglah dan jadikan namamu abadi, Ayo Indonesia, Indonesia Juara,” ucap Menteri yang diamanahi sebagai penanggungjawab sukses prestasi Indonesia di ajang multievent olahraga terbesar bangsa-bangsa di Asia ini.

Menurut Menpora, Indonesia patut berbangga, karena setelah 56 tahun, Indonesia kembali kembali dipercaya menjadi tuan rumah Asian Games, “Kita pernah menjadi tuan rumah pertama kali pada tahun 1962, saat usia Republik Indonesia masih muda, 17 tahun, namun justru saat itulah catatan prestasi olahraga terbaik kita torehkan dengan meraih posisi kedua diantara negara-negara Asia,” ucapnya.

Pemerintah Indonesia, menurut Menpora, kala itu memiliki mimpi besar agar Indonesia dilihat oleh dunia. Asian Games adalah pesta olahraga Asia yang dirintis ketika kekuatan ideologi imperialisme Barat mulai runtuh dan bangsa-bangsa di Asia mulai mendapat kemerdekaannya. Artinya, Asian Games menjadi momentum lahirnya nasionalisme dan solidaritas di antara bangsa-bangsa Asia.

“Slogan ‘Energy of Asia’ yang diusung dalam Asian Games 2018 kali ini, harus dimaknai sebagai momentum kebangkitan kembali dunia olahraga Indonesia di level internasional. Inilah momen paling tepat bagi bangsa Indonesia untuk menunjukkan kualitasnya sebagai bangsa yang besar, energi hebat yang akan kita gulirkan kembali ke pentas Asia dan juga dunia, sebagaimana kita pernah melakukannya pada Asian Games 1962 lalu, ‘’ tutur Menpora seraya menegaskan gelora kejayaan dalam momentum Asian Games tidak boleh berubah apalagi padam.

Indonesia di Asian Games 2018

Sebagai Tuan Rumah Asian Games kali ini, Indonesia akan mengirimkan sebanyak 1.388 orang yang terdiri dari 938 atlet, 396 ofisial yang akan mengikuti 40 cabang olahraga yang dipertandingkan.

Sebelumnya dalam pesan saat pelepasan Kontingen Indonesia di Asian Games 2018, Rabu (8/8) lalu di Istana Negara, Presiden Joko Widodo menaruh harapan besar dan meyakini bahwa dukungan 263 juta penduduk Indonesia berada di belakang perjuangan para pahlawan olahraga, untuk berkumandangnya Indonesia Raya dan berkibarnya Bendera Merah Putih, dari setiap arena yang melahirkan kemenangan.

4 sukses yang dicanangkan oleh Pemerintah dalam penyelenggaraan Asian Games 2018, yaitu, Sukses Penyelenggaraan, Sukses Prestasi, Sukses Administrasi dan Sukses Pemberdayaan Ekonomi.

Sukses Penyelenggaraan, berarti Indonesia sukses sebagai tuan rumah. Tamu-tamu kita merasa aman dan nyaman, masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke terkena demam penyelenggaraan Asian Games, dan Indonesia mampu menjaga iklim sportivitas di seluruh cabang olahraga.

Sukses Administrasi, adalah bagian daripada tertib administrasi. Hal ini penting untuk menjaga transparansi dan penyelenggaraan Asian Games yang akuntabel. Selain itu, Indonesia akan menjadi tempat bagi ribuan atlet, ofisial, dan suporter dari seluruh Asia. Pencatatan administrasi penting dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan.

Berikutnya adalah Sukses Prestasi, yakni capaian serta target Indonesia di Asian Games 2018. Indonesia diharapkan mampu mencapai urutan 10 besar se-Asia. Target 16 medali emas harus menjadi pelecut semangat atlet-atlet Indonesia dalam menggapai prestasi.

Terakhir, Sukses Ekonomi, pelaksanaan Asian Games yang tidak hanya di Jakarta, melainkan di Palembang dan juga sejumlah kota di wilayah Jawa Barat, menjadikan masyarakat luar kawasan ibukota juga bisa ikut meramaikan Asian Games, memanfaatkan produk olahraga lokal, membeli tiket pertandingan, dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk memperkuat pilar ekonomi kreatif khususnya bagi industri kecil dan menengah, terlebih Asian Games kali ini diikuti oleh 45 negara di Asia, sehingga potensi ekonomi dalam ajang ini sangat besar.

Sukses Prestasi Asian Games 2018

Secara khusus, sebagai penanggungjawab sukses prestasi, Kementerian Pemuda dan Olahraga telah terus menerus memastikan dukungan pada perjuangan atlet-atlet Indonesia. Memberi kepercayaan penuh kepada setiap federasi cabang olahraga yang ada untuk mengelola proses pemusatan pelatihan nasional, training camp hingga mengikuti berbagai uji coba baik di dalam dan luar negeri, menjadi sebuah proses panjang yang telah dimulai sejak awal tahun 2018 yang dikawal langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga melalui unit Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional (PPON).

Secara intensif, Menteri Pemuda dan Olahraga telah berkunjung ke setiap cabang-cabang olahraga yang ada untuk memastikan pelatihan yang menerapkan sport science (ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga), mencari solusi atas berbagai kendala dan persoalan yang terjadi, memantau langsung soal nutrisi dan gizi, hingga memberikan motivasi langsung kepada para atlet.

Meski Indonesia berpartisipasi di semua nomor pertandingan, dan berharap semua atlet mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya di hadapan publiknya sendiri, ada sejumlah cabang olahraga yang diharapkan akan menjadi cabang-cabang potensial yang mampu meraih medali emas untuk kontingen Indonesia, yakni antara lain: Paralayang, Dayung, Jetski, Bulutangkis, Wushu, Bridge, Angkat Besi, Pencak Silat, Panjat Tebing, dan Taekwondo.

“Kita tentu sangat berharap bisa meraih kemenangan dari para atlet terbaik kita yang saat ini menempati peringkat satu dunia seperti di cabang Bulutangkis, Jetski, Paralayang, Wushu, Pencak Silat dan Panjat Tebing. Dari berbagai kejuaraan dan uji coba terakhir yang diikuti oleh atlet-atlet ini, hasilnya sangat membanggakan dan kita berharap konsistensi para atlet kita untuk mempersembahkan prestasi yang terbaik di Asian Games 2018,” jelas Imam.

Sebagai bentuk komitmen pemerintah atas perjuangan para atlet, lebih jauh Menpora Imam Nahrawi mengatakan, pemerintah siap memberikan apresiasi berupa bonus sebesar 1.5 Milyar Rupiah bagi peraih medali emas, yang menjadi bentuk apresiasi tertinggi sepanjang sejarah Asian Games.

(Biro Humas dan Hukum Kementerian Pemuda dan Olahraga RI dan Tim Komunikasi Pemerintah Kemenkominfo)